Saturday, 6 February 2016

0 7 Cara Mencari Jodoh Menurut Islam



Jodoh itu misteri, hanya Allah yang tahu siapa jodoh kita. Tak peduli seberapa kita inginkan, jika bukan jodohnya, maka tak bisa dipaksakan. Pun sebaliknya, seberapa pun kita tak menginginkannya, jika memang jodohnya, maka tak akan bisa dihindari. Allah akan selalu memiliki skenario sendiri untuk menyatukan mereka yang telah ditetapkan sebagai "Jodoh".

Allah mempunyai tiga pilihan dalam menjodohkan manusia satu sama lain. Pilihan pertama adalah cepat mendapatkan jodoh. Pilihan kedua, lambat mendapatkan jodoh, tapi suatu saat pasti mendapatkannya di dunia. Pilihan ketiga adalah tidak mendapatkan jodoh di dunia tapi mendapatkannya di akhirat kelak. Apapun pilihan jodoh yang ditentukan Allah, maka hal itu adalah hal yang terbaik untuk kita.


Ada 7 cara mencari jodoh menurut Islam yang merupakan bagian dari ikhtiar kita sebagai manusia :



1. Memperbaiki Diri



Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang shalih, maka kita harus menjadi orang yang shalihah juga. Itulah maksud Allah dalam firman-Nya,


“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS. An-Nur: 26).






2. Tidak Putus Asa dalam Berdo'a

Jangan pernah berputus asa untuk berdoa. Doa yang baik untuk mendapatkan jodoh adalah doa yang terdapat dalam surat Al Furqon ayat 74 : “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Agar doa lebih terkabul, perhatikan juga adab-adab berdoa dalam Islam. Jadi jangan berdoa menurut versi kita sendiri. Berdoalah menurut apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, niscaya doa kita akan lebih terkabul.



3. Memperbanyak Ibadah Sunnah

Agar jodoh kita semakin cepat datang, kita juga perlu mendekati Allah dengan ekstra dekat. Caranya tidak hanya mengandalkan ibadah wajib, tapi juga dengan menambah ibadah-ibadah sunnah seperti sholat tahajjud, sholat dhuha, shaum, tilawah Al Qur’an, infaq, dan lain-lain. Lakukan ibadah sunnah ini secara rutin setiap hari agar iman kita bertambah dan doa kita semakin dikabulkan Allah Swt.



4. Memiliki Kriteria yang tidak Muluk-Muluk.

Mengapa jodoh sulit datang kepada kita? Salah satunya mungkin disebabkan karena kriteria jodoh kita terlalu muluk. Kita ingin jodoh yang mapan, ganteng/cantik, berpangkat, keturunan baik-baik dan beriman. Keinginan semacam itu sah-sah saja, tapi jika hal tersebut dijadikan syarat untuk jodoh kita maka kita telah mempersulit diri sendiri.

Itulah sebabnya Rasulullah mengatakan jika kita tidak dapat memperoleh semuanya, maka pilihlah yang agamanya paling baik. Hal itu berarti mungkin saja jodoh kita orang yang miskin, tidak berpangkat, bukan keturunan orang baik, akan tetapi kita perlu menerimanya asalkan memiliki agama/akhlaq yang baik. Jangan kita menginginkan kesempurnaan dari orang lain, sedangkan diri kita tidaklah sempurna.




5. Memperluas Pergaulan

Cara lain agar cepat mendapatkan jodoh adalah memperluas pergaulan. Dengan pergaulan yang luas kita juga lebih banyak mendapatkan pilihan. Seringkali jodoh itu datang bukan dari perkenalan langsung, tapi dari kenalan teman kita. Itulah gunanya pergaulan yang luas. Ibarat seorang nelayan yang menebarkan jaringan yang luas untuk mendapatkan ikan yang lebih banyak.



6. Meminta Bantuan Orang Lain.

Cara lain agar cepat mendapatkan jodoh adalah meminta tolong kepada orang lain yang reputasinya baik. Orang tersebut bisa saja guru mengaji, murobbi, teman, orang tua, saudara, dan lain-lain. Jangan malu-malu untuk meminta bantuan kepada mereka dan jangan malu-malu juga untuk mengulangi permintaan kita secara rutin agar orang tersebut ingat bahwa kita meminta bantuan kepadanya.


7. Menyatakan Hasrat (Keinginan Menikah) Secara Langsung.

Bisa juga seorang wanita mendapatkan jodoh dengan cara menyatakan langsung kepada lelaki yang baik agamanya bahwa kita siap menikah dengannya. Ini adalah cara yang masih asing dalam budaya Indonesia. Namun cara ini sebenarnya Islami, karena pernah dilakukan Khadijah ra kepada Nabi Muhammad SAW. Khadijah ra yang lebih dahulu menyatakan hasratnya kepada Nabi melalui perantaranya.


Demikian 7 Cara atau tips mencari Jodoh secara Islami, Semoga bermanfaat ya guys, Jangan lupa undangannya ya kalo sudah mau Nikah..:D



Picture Source : FP Rumah Zakat
Original Article : Zoya









Thursday, 14 January 2016

0 Download Film 3 Alif Lam Mim (2015) TVRip





Sinopsis:


FILM “3” adalah film laga futuristik pertama di Indonesia yang menceritakan tentang persahabatan, persaudaraan dan drama keluarga. Jakarta 2036, begitu banyak terjadi perubahan. Negara sudah kembali damai dan sejahtera sejak perang saudara dan pembantaian kaum radikal berakhir di Revolusi tahun 2026.Hak asasi manusia menjadi segalanya. Penggunaan peluru tajam sebagai senjata sudah menjadi ilegal. Aparat menggunakan peluru karet untuk menangkap penjahat dan teroris yang masih tersisa. Satu dilema yang sangat menyulitkan bagi aparat mengingat beberapa kelompok radikal kembali bangkit dan berjuang untuk menganti wajah demokrasi sehingga aparat mengandalkan kemampuan bela diri yang tinggi untuk menumpas para penjahat. 








Release : 1 October 2015 (Indonesia)


Quality : TVRip


Genre : Action, Drama


Starcast : Cornelio Sunny, Abimana Aryasatya, Agus Kuncoro, Prisia Nasution


Info Movie : Wikipedia










TRAILER


















SRCREENSHOOTS


















Link Donwload
Film "3" Alif Lam Mim TV.Rip
































0 Mengenal Lebih Dekat Vice President Telkomsel yang Hafal 30 Juz






Alhamdulillah, geliat dakwah dan syiar Al Quran semakin merambah ke berbagai kalangan termasuk entitas bisnis di Indonesia. Seorang Vice Presiden di perusahaan multinasional ini ternyata Hafizh Al Quran 30 Juz. Masya Allah.

Nizar, 43, adalah VP Human Capital and Procurement di Telkomsel, anak perusahaan Telkom Group untuk bisnis internasional khusus negara Timor Leste. Pria kelahiran Jakarta ini sudah bertugas selama dua tahun di Dili setelah malang melintang di beberapa daerah seperti Bandung dan Medan.

Sebagai seorang VP, Nizar yang kini dikaruniai tiga orang anak, bertanggung jawab terhadap seluruh persoalan karyawan mulai dari rekrutmen hingga pensiun. Bahkan terkadang sampai ke urusan keluarga.

Suami dari Febris Maulidani ini, mengaku dirinya belum memiliki hafalan banyak sejak kecil. Bukan seperti trend sekarang dimana anak-anak sudah dibiasakan menghafal mulai dari TK atau SD. Dia justru mulai ada keinginan menghafal Al Quran setelah bekerja di PT. Telkom.

Lalu bagaimana caranya, di tengah-tengah kesibukan menjalankan amanah di sebuah perusahaan raksasa telekomunikasi Indonesia masih sempat menghafal Al Quran dan menuntaskan seluruh 30 juz?

Berikut hasil wawancara Nizar dengan tim redaksi bersamaislam.com menjelang malam pergantian tahun, Selasa (29/12/2015).

bersamaislam:

Kapan anda mulai menghafal dan menuntaskan hafalan Al Quran 30 Juz?


Nizar:

Tahun 2006 yang lalu saya berangkat umroh, waktu itu usia saya 34 tahun, anak sudah dua orang. Karena yang ketiga baru lahir tahun 2007. Saya merasa perlu banyak bersyukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Allah. Nikmat hidayah terutama. Dan bagaimana cara mempertahankan hidayah itu dari berbagai godaan.

Saat itulah muncul keinginan untuk lebih dekat dengan Al Quran, bisa membaca dengan benar dan menghafal. Di setiap tempat yang mustajab selama di masjidil haram saya berdoa kepada Allah, semoga saya bisa menghafal Al Quran. Dan entah kenapa, saya berdoa agar bisa hafal 30 juz sebelum usia 40 tahun.

Pulang umroh saya bertekad merealisasikan doa tersebut. Saya cari lembaga tahfidz Al Quran di Bandung. Saya diminta untuk ikut seleksi, dan hasilnya saya tidak lulus. Saya didowngrade ke kelas tahsin, yaitu kelas untuk memperbaiki bacaan. Waktu itu saya kecewa, tapi ternyata takdir Allah lebih baik.

Dua tahun saya harus jalani kelas tahsin. Belakangan saya sadar, penting untuk memperbaiki bacaan sebelum mulai menghafal, sementara huruf, tajwid dan fashohah saya banyak yang salah.

Saat masih belajar tahsin, ada metode baru dan cukup unik untuk menghafal yaitu Quantum Memory Al Quran. Saya diajak mendengarkan kelas sosialisasi dan saya ikut.

Ternyata itu memotivasi saya untuk mencoba. Akhirnya sambil menjalani kelas tahsin, saya mulai menghafal sendiri. Otodidak dengan metode tersebut. Tidak disangka saya bisa selesaikan 6 juz, yaitu juz 30, 29, 28, 7, 1, dan 2.

Saat itu mulai terasa beratnya menjaga hafalan 6 juz, sehingga saya ragu-ragu untuk meneruskan. Ternyata Allah SWT memberi jawaban.

Dalam sebuah kajian tahfizh di mesjid Salman ITB, saya dipertemukan dengan ustadz Abdul Aziz. Sejak itu, yaitu sekitar awal tahun 2008, saya masuk kelas menghafal Al Quran di mesjid Habiburrahman dengan bekal 6 juz.

Alhamdulillah prosesnya dimudahkan oleh Allah SWT. Rata-rata saya bisa menyetorkan hafalan ½ – 1 juz setiap minggu, sehingga tepat sebelum saya pindah tugas ke Medan di bulan April 2009 saya sudah menuntaskan seluruh setoran 30 juz.

Jika dihitung sejak bergabung menjadi santri tahfidz Al Quran di Habiburrahman, saya menyelesaikan hafalan selama kurang lebih 1 ½ tahun. Tetapi jika dihitung sejak awal menghafal secara otodidak, saya menyelesaikan hafalan selama kurang lebih 2 ½ tahun.

Subhanallah walhamdulillah, inilah jawaban dari doa-doa di multazam yaitu bisa hafal 30 juz sebelum usia 40 tahun.


bersamaislam:

Bagaimana metode yang anda lakukan sehingga bisa menuntaskan seluruh hafalan tersebut? Adakah kiat khusus?


Nizar:

Metode awal adalah menyiapkan diri untuk bisa menerima Al Quran, yaitu dengan mempelajari dan memperbaiki bacaan sambil memperbanyak amal sholeh yang akan menjadi bahan bakar kita untuk terus istiqomah dalam proses menghafal.

Sejak mengikuti pelajaran tahsin, saya terus meningkatkan interaksi harian dengan Al Quran melalui target khatam tilawah setiap bulan atau yang sekarang disebut ODOJ, One Day One Juz. Saya juga berusaha meningkatkan ibadah ibadah lainnya seperti shalat berjamaah di mesjid, menegakkan shalat malam, berinfaq, dan berbagai amal sholeh yang dicontohkan nabi SAW.

Kemudian tiada hari tanpa muraja’ah (mengulang hafalan) dan ziyadah (menambah hafalan baru). Jadi sambil mengejar target odoj, hafalan tetap dan terus bertambah. Untuk teknis menghafal, saya tetap gunakan metode quantum karena cukup cocok.

Dan yang terakhir, tidak lupa bergabung dalam satu halaqah/komunitas menghafal Al Quran sehingga bisa saling memberi semangat.


bersamaislam:

Orang bilang mempertahankan itu lebih sulit. Apakah dalam hafalan Al Quran seperti itu? Bagaimana cara anda mempertahankan hafalan agar tidak hilang di tengah kesibukan pekerjaan?


Nizar:

Benar, menghafal itu bukanlah pekerjaan seberapa cepat kita bisa menyelesaikan setoran hafalan, tetapi berapa lama hafalan Al Quran bisa terus kita jaga dan pertahankan.

Oleh karena itu cara pertama untuk menjaga hafalan adalah mengubah mindset kita, bahwamenghafal Al Quran adalah ibadah seumur hidup.

Selanjutnya perlu dirancang program agar kita bisa terus mempertahankan serta carilah lingkungan dimana proses menjaga hafalan akan lebih kondusif.

Alhamdulillah saat ini saya berada di lingkungan yang cukup kondusif. Ada tasmi’ seminggu sekali di hadapan jamaah mesjid An-Nuur, Dili. Dan ada juga program saling setor dengan Imam mesjid setiap harinya.

Saya sendiri membuat target mengulang hafalan sampai khatam (30 juz) dengan berbagai durasi, tergantung ketersediaan waktu dan kondisi keimanan juga. Pernah seminggu sekali khatam, 10 hari sekali, atau sebulan sekali.

Disamping itu saat menjadi imam shalat wajib saya manfaatkan untuk muraja’ah, demikian juga ketika melaksanakan shalat-shalat sunnah. Juga mendengarkan murottal melalui media elektronik dan segala macam hal yang bisa kita gunakan setiap saat untuk tetap berinteraksi dengan Al Quran.


bersamaislam:

Apa yang menjadi motivasi anda sehingga bercita-cita menjadi Hafizh Al Quran?


Nizar:

Berdasarkan pengalaman dari awal menghafal sampai sekarang, motivasi saya berubah seiring perjalanan waktu.

Saat pertama menghafal, saya ingin menjadikan Al Quran sebagai benteng dalam menghadapi berbagai cobaan dan menjadi hafizh sebelum umur 40 tahun. Setelah mulai menghafal, saya ingin menjadi yang tercepat dalam menyelesaikan hafalan di mesjid Habiburrahman.

Setelah selesai menghafal, motivasinya berubah lagi ingin menjadikan Al Quran sebagai wirid harian. Pada akhirnya, motivasi menghafal Al Quran adalah untuk ingin dekat dengan Allah SWT.


bersamaislam:

Anda adalah seorang pekerja profesional di sebuah international corporation. Adakah suka duka atau kendala-kendala yang menjadi penghalang dalam menghafal Al Quran?


Nizar:

Salah satu kiat menjaga Al Quran adalah dengan melaksanakan perintah-perintah wajib. Akan sulit bagi kita untuk bisa terus dekat dengan Al Quran jika kewajiban saja tidak kita lakukan dengan baik.

Salah satu kewajiban bagi kita muslim laki-laki adalah shalat berjamaah di mesjid tepat waktu. Ini adalah kendala tersendiri di lingkungan pekerjaan.

Ketika berada dalam situasi yang mendesak dan waktu terbatas, sulit bagi saya untuk bisa shalat berjamaah di mesjid. Apalagi jarak dari kantor ke mesjid di sini tidak terlalu dekat. Walaupun ada musholla kecil, tetapi perasaan untuk bisa shalat di mesjid tidak tergantikan.


bersamaislam:

Apa pesan yang ingin anda sampaikan kepada kaum muslimin secara umum dan kepada kalangan profesional secara khusus tentang Al Quran?


Nizar:

Di tengah berbagai cobaan yang menggoda kita dari kiri, kanan, atas, dan belakang dimanapun kita berada, kita memerlukan amalan unggulan yang bisa kita banggakan di sisi Allah SWT. Dan mudah-mudahan amal tersebut menjadi engine bagi amal-amal sholeh lainnya.

Al Quran adalah salah satu amalan yang patut kita perjuangkan. Bisa membaca, menghafal, memahami artinya, melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang di dalamnya, dan mendakwahkannya merupakan rezeki dari Allah yang tiada terkira.

Begitu banyak keistimewaan yang Allah akan berikan kepada hambaNya yang mampu menjadi sahabat Al Quran. Kita harus memperjuangkannya agar bisa masuk dalam barisan tersebut, dan setelah itu kita harus berjuang untuk mempertahankannya.

Wallahu a’lam bish showab.







Sumber : bersamaislam.com


Article Source : Sang Pencerah

0 Filosofi & Kredo Gerakan KAMMI














Filosofi dan Kredo Gerakan








I. FILOSOFI




ASAS KAMMI


KAMMI berazaskan Islam. ini mengutamakan persaudaraan (ukhuwwah islamiyah) antar sesama mahasiswa muslim Indonesia dan bersifat Independen.


VISI KAMMI


KAMMI merupakan wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia.


MISI KAMMI



1. Membina keislaman, keimanan, dan ketaqwaan mahasiswa muslim Indonesia.





2. Menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, dan politik mahasiswa.




3. Mencerahkan dan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang rabbani, madani (civil society).




4. Memelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerjasama mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan kerakyatan dan kebangsaan.


5. Mengembangkan kerjasama antar elemen masyarakat dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar maruf nahi munkar).







PRINSIP GERAKAN KAMMI :



Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI
Kebathilan adalah musuh abadi KAMMI
Solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI
Perbaikan adalah tradisi perjungan KAMMI
Kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI
Persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI


STATUS, IDENTITAS DAN PERAN


KAMMI adalah organisasi ekstra kampus yang menghimpun mahasiswa muslim seluruh Indonesia secara lintas sektoral, suku, ras dan golongan. KAMMI menghimpun segenap mahasiswa muslim Indonesia yang bersedia bekerjasama membangun negara dan bangsa Indonesia.


KAMMI berperan sebagai wadah dan mitra bagi mahasiswa Indonesia yang ingin menegakkan keadilan dan kebenaran dalam wadah negara hukum Indonesia melalui tahapan pembangunan nasional yang sehat dan bertanggung jawab.


KAMMI mengambil peran sebagai mitra bagi masyarakat dalam upaya-upaya pembangunan masyarakat sipil, demokratisasi dan pembangunan kesatuan/persaudaraan ummat dan bangsa melalui pendampingan/advokasi sosial, kritisi/konstruktif terhadap kebijakan negara yang memarginalisasi masyarakat.


Potret Dinamika KAMMI


Di awal pendiriannya, KAMMI merupakan sebuah jaringan aksi. Setelah tumbangnya rezimentasi Soeharto, KAMMI mengalami perubahan format/bentuk pergerakan menjadi sebuah organisasi masyarakat kemahasiswaan ekstra kampus.Hal ini merespons tuntutan di masyarakat akan perlunya wadah bagi pembangunan kepemimpinan di kalangan pemuda terutama mahasiswa.Sejak pendiriannya, KAMMI sudah melakukan 5 (lima) kali Muktamar sebagai forum musyawarah tertinggi organisasi. Dinamika organisasi juga ditandai dengan berkembangnya/berdirinya KAMMI di berbagai daerah di seluruh Indonesia.


Ada beberapa aspek yang menjadi perhatian/concern bagi aktifitas KAMMI :


1. Aspek pembangunan SDM / kaderisasi


Kaderisasi dalam organisasi ibarat menyiapkan kelangsungan hidup/continuity organisasi. Merupakan upaya pembangunan karakteristik ke-Islaman, akidah, akhlaqul karimah, kepemimpinan dan intelektual. Dalam aspek ini meliputi aktifitas rekruitmen, pelatihan berjenjang, up-grading,kursus-kursus dan pembelajaran kepemimpinan baik di dalam organisasi maupun di luar organisasi. Hingga saat ini sudah ada riibuan kader yang telah direkrut dan kemudian sebagian besar kader menjadi pemimpin-pemimpin mahasiswa diberbagai lembaga-lembaga intra kampus maupun ekstra kampus.


2. Aspek Kebijakan Publik dan Intelektualitas


Merupakan aspek pengkritisan terhadap kebijakan-kebijakan negara atas masyarakat, kajian terhadap fenomena masyarakat pada skala lokal, nasional dan global. Kajian dan kritisi merupakan langkah awal untuk melakukan gerakan perubahan menuju perbaikan dan advokasi politik. Aspek ini meliputi telaah kebijakan-kebijakan pemerintahan, penerbitan-penerbitan hasil kritisi kebijakan maupun kontemplasi pemikiran dan pembangunan jaringan ummat pada beragam skala wilayah dan sosial. Pada aspek ini, agenda gerakan mahasiswa ditujukan sebagai pematangan kepemimpinan politik kafer,dan sumbangsih bagi perubahan bangsa.


3. Aspek Sosial Masyarakat


Beragam problem-problem sosial ada di sekitar kita; kemiskinan, keterbelakangan, kriminalitas, kualitas hidup yang rendah, bencana alam dan sebagainya. Problem ini menimbulkan kelemahan dan kerawanan sosial dan bahkan bisa mengancam daya tahan sebuah bangsa. Kepedulian KAMMI diwujudkan dalam bentuk pendampingan/advokasi masyarakat marginal, pendidikan masyarakat lemah, penanganan bencana alam,dan sebagai mitra bagi pemerintah dan organisasi lain untuk bersama mencari solusi atas problem sosial dan budaya.


4. Aspek Ekonomi


Sejumlah kader yang tersebar dalam 43 daerah/jaringan di seluruh Indonesia merupakan potensi ekonmi yang besar. Terlepas dari itu, bahwa pembangunan enterpreneurship dan ruang usaha/ekonomi adalah hal yang sangat penting untuk saat ini ke depan, terutama bagi generasi muda. Aspek ini diwujudkan dengan adanya gerakan Koperasi sebagai gerakan ekonomi KAMMI, pembangunan jaringan usaha baik lokal, nasional dan regional.


5. Aspek Hubungan Masyarakat


Perkembangan masyarakat semakin menuntut kecepatan transformasi informasi dan komunikasi. Dan hal ini sangat besar pengaruhnya bagi pembangunan interrelasi manusia baik secara inpidu maupun kolektif. Aspek ini menekankan pada pembangunan relasi antar inpidu dan institusi baik pada skala nasional maupun global.


6. Aspek Pembangunan Kemuslimahan/Kewanitaan


Masih belum terbangunnya daya gerak dan daya dukung kalangan perempuan (muslimah) telah melahirkan distorsi peran dan psosisi strategis kalangan muslimah dalam pembangunan. Faktor politik, sosial dan budaya yang masih pragmatif, feodal dan liberal telah melahirkan ketidakadilan yang meluas di kalangan wanita. Karena itu pembangunan aspek kemuslimahan ditujukan bagi terbangunnya keberdayaan peran muslimah di segala aspejk kehidupan.





II. Kredo



1. Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka. Tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak. Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan.





2. Kami adalah orang-orang pemberani. Hanyalah Allah yang kami takuti. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa menggentarkan hati kami, atau membuat kami tertunduk apalagi takluk kepadanya. Tiada yang kami takuti, kecuali ketakutan kepada selain-Nya.




3. Kami adalah para petarung sejati. Atas nama al-haq kami bertempur, sampai tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini. Kami bukan golongan orang yang melarikan diri dari medan pertempuran atau orang-orang yang enggan pergi berjihad. Kami akan memenangkan setiap pertarungan dengan menegakkan prinsip-prinsip Islam.




4. Kami adalah penghitung risiko yang cermat, tetapi kami bukanlah orang-orang yang takut mengambil risiko. Syahid adalah kemuliaan dan cita-cita tertinggi kami. Kami adalah para perindu surga. Kami akan menyebarkan aromanya di dalam kehidupan keseharian kami kepada suasana lingkungan kami. Hari-hari kami senantiasa dihiasi dengan tilawah, dzikir, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, diskusi-diskusi yang bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan, serta kerja-kerja yang konkret bagi perbaikan masyarakat.Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini ke mana pun perginya, menjadi pembangunnya yang paling tekun, menjadi penyebarnya yang paling agresif, serta penegaknya yang paling kokoh.


5. Kami adalah orang-orang yang senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam. Kami bukanlah orang yang suka berleha-leha, minimalis dan loyo. Kami senantiasa bertebaran di dalam kehidupan, melakukan eksperimen yang terencana, dan kami adalah orang-orang progressif yang bebas dari kejumudan, karena kami memandang bahwa kehidupan ini adalah tempat untuk belajar, agar kami dan para penerus kami menjadi perebut kemenangan yang hanya akan kami persembahkan untuk Islam.


6. Kami adalah ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan, politisi yang piawai mengalahkan muslihat musuh dan yang piawai dalam memperjuangkan kepentingan umat, seorang pejuang di siang hari dan rahib di malam hari, pemimpin yang bermoral, teguh pada prinsip dan mampu mentransformasikan masyarakat, guru yang mampu memberikan kepahaman dan teladan, sahabat yang tulus dan penuh kasih sayang, relawan yang mampu memecahkan masalah sosial, warga yang ramah kepada masyarakatnya dan responsif terhadap masalah mereka, manajer yang efektif dan efisien, prajurit yang gagah berani dan pintar bersiasat, prajurit, diplomat yang terampil berdialog, piawai berwacana, luas pergaulannya, percaya diri yang tinggi, semangat yang berkobar tinggi.







Sumber : KAMMI Pusat




Friday, 11 September 2015

0 Selangkah Lebih Dekat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia





KAMMI berdiri pada tanggal 29 maret 1998 bersamaan dengan diadakannya FSLDK X di Universitas Muhammadiyah Malang. dalam FSLDK Malang ini menetapkan beberapa sasaran yang ingin dicapai, antara lain: membangun pemahaman bersama tentang konsep Dakwah Islamiyah yang dijalankan para LDK, memperkuat ikatan dan jaringan antar LDK dan para aktivisnya, serta menentapkan aksi-aksi riil LDK dalam menyikapi krisis bangsa yang sedang terjadi. Perdebatan seru muncul pada tataran operasionalisasi, yaitu bagaimana LDK mewujudkan sikap pandanganya terhadap permasalahan bangsa yang terjadi, tanpa menyeret lembaga ini ke dalam pusaran politik praktis. Akhirnya, diambil inisiatif jalan tengah yaitu melanjutkan pembahasan mengenai hal ini di luar forum FSLDK yang sudah terjadwalkan sejak semula. Menindaklanjuti hal tersebut dibentuklah tim Formatur yang beranggotakan 8 orang peserta. Tugas utama tim formatu ini adalah membahas dan memformulasikan bentuk respon LDK terhadap krisis nasional yang terjadi. yang pada akhirnya tim Formatur ini juga sampai pada kesepakatan bahwa wadah itu bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

SEJARAH KAMMI (Kesatuan Aksi mahasiswa Muslim Indonesia)

FSLDK X diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang ( UMM ) pada 25-29 maret 1998. Forum itu dihadiri sekitar 200 orang peserta yang mewakili 69 LDK dari sekitar 64 kampus. Mereka berasal dari kampus-kampus yang ada di jawa, sumatera dan Kalimantan. FSLDK ini mengusung tema ”Pergerakan Mahasiswa Muslim Menuju Transformasi Sosial : upaya peningkatan intelektualitas Aktivitas Dakwah Kampus “Pertemuan yang kepanitiannya ditangani oleh LDK Jamaah AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang ( UMM ), menetapkan beberapa sasaran yang ingin dicapai, antara lain : Membangun pemahaman bersama tentang konsep Dakwah Islamiah yang dijalankan para LDK, memperkuat ikatan dan jaringan antara LDK dalam menyikapi krisis bangsa yang sedang terjadi. Untuk pengayaan wawasan para peserta, juga di selenggarakan sesi diskusi panel yang mengahadirkan sejumlah pembicara dari lingkungan LDK.Hal menarik dari sesi diskusi panel ini adalah diundangnya Prof.Dr.Amin Rais dan Letjen Prabowo Subiyanto. Meskipun keduanya berhalangan hadir, tetapi rencana panitia FSLDK X mengundang kedua tokoh ini menarik untuk dicermati. Mengenai Prof.Dr. Amin Rais, alasannya yang dikemukakan adalah mempertimbangkan sikap-sikap kritis yang dilontarkan Amin rais terhadap krisis yang sedang berlangsung dan juga sikap perlawanannya terhadap rezim status quo Orde Baru. Adapun rencana mengundang Letjen Prabowo Subiyanto didasari oleh semangat dialog ABRI-Mahasiswa yang mulai mengemuka pada saat itu. Diharapkan, para peserta FSLDK X bisa menggali pandangan dari petinggi militer terhadap permasalahan yang sedang terjadi dan khususnya bagaimana mereka memandang LDK sebagai kekuatan moral-intelektual mahasiswa muslim. Sidang komisi FSLDK X dibagi dalam komisi politik, Ekonomi, Budaya, Pers dan Jaringan Islam Indonesia. Dari sidang komisi Ekonomi dihasilkan rumusan untuk mensosialisasikan ide Ekonomi Islam yang berorientasi kepada ekonomi kerakyatan, baik dilingkungan kampus maupun ditengah masyarakat. Dari sidang komisi Budaya salah satu rumusan pentingnya adalah tuntutan untuk menciptakan birokrasi yang bersih, jujur, adil dan berwibawa serta menghapuskan budaya korupsi, kolusi dan nepotisme. Adapun komisi politik secara prinsip sepakat bahwa krisis yang sedang terjadi merupakan momentum bagi FSLDK untuk mengemukakan sikap-sikap politiknya secara jelas dan tegas, agar eksistensi FSLDK diakui masyarakat. Salah satu poin menarik dari komisi Politik ini adalah prediksi tentang kekacauan politik yang mungkin terjadi menyusul semakin panasnya kondisi politik nasional. Lalu komisi ini merekomendasikan perlunya LDK melakukan langkah-langkah antisipasi dalam mengahadapi kemungkinan terjadinya kekacauan politik ini. Gagasan Pembentukan KAMMI Seperti disebutkan diatas, diskusi dalam sidang-sidang komisi ternyata diwarnai pembahasan hangat tentang perlunya LDK menyikapi situasi sosial politik yang sedang berkembang. Perdebatan seru muncul pada tataran operasional yaitu bagaiman LDK mewujudkan sikap pandangnya terhadap permasalahan bangsa yang terjadi, tanpa menyeret lembaga ini kedalam pusaran politik praktis. Akhirnya diambil inisiatif jalan tengah, yaitu melanjutkan pembahasan mengenai hal ini diluar forum FSLDK yang sudah terjadwalkan sejak semula. Jalan ini diambil karena sejak awal, panitia tidak secara khusus mengagendakan tema ini. Namun kuat respon para peserta agar LDK menyikapi perkembangan krisis nasional yang sedang terjadi, membuat para pemimpin sidang memutuskan jalan tengah ini.

Menindaklanjuti jalan tengah ini, dibentuklah tim formatur yang beranggotakan 8 (delapan ) orang dari peserta. Mereka adalah :

1. Arianto Pratikno ( ketua Jamaah AR Fachruddin UMM 1997/1998 ), sebagai ketua tim.

2. Badaruddin ( Ketua Forkom LDK Unair 1998/1999 )

3. Andri Yunita Kusumawati ( Forkom LDK Unair )

4. Edi Chandra ( DKM Al-Ghaifari IPB )

5. Faizal Sanusi ( Ketua Kerohanian Islam SM UI 1996/1997 )

6. Muhammad Arif Rahman ( Ketua Jamaah Shalahuddin UGM )

Tugas utama tim formatur ini adalah membahas dan memformulasikan bentuk respon LDK terhadap krisis nasional yang terjadi. Sementara tim ini bekerja, agenda-agenda FSLDK juga terus menjalani sesuai agenda yang telah direncanakan sebelumnya. Kerjanya tim formatur ini menyikapi 2 hal penting yaitu :

1. Sepakat untuk membentuk sebuah wadah khusus bagi para aktivis LDK diluar nasional yang semakinparah, termasuk pada tataran aksi.

2. Sepakat untuk mendeklarasikan wadah baru ini setelah selesainya acara FSLDK X, sehingga wadah ini bukan sebagai salah satu keputusan FSLDK X, tetapi kesepakatan para peserta yang terjadi bersamaan dengan berakhirnya penyelenggaraan FSLDK X.

Tim formatur ini juga sampai pada kesepakatan bahwa wadah ini bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia ( KAMMI ), dengan mendudukkan Fahri Hamzah sebagai ketua umum dan Haryo Setyko sebagai sekretaris umum. Wadah ini kemudian dideklarasikan pada hari ahad, tanggal 29 maret 1998 atau bertepatan 1 Dzulhijjah 1418 H, jam 13.30 wib di Aula Universitas Muhammadiyah Malang (UMM ), beberapa setelah FSLDK X secara resmi ditutup oleh pembantu Rektor 2 UMM. Hasil-hasil keputusan tim formatur dibacakan oleh Ananto Pratikno, ketua Jamaah AR Fachuddin UMM, dihadapan peserta FSLDK nasional X yang saat itu masih tetap berkumpul diruangan. Setelah itu, deklarasi pendirian KAMMI yang tertuang dalam “Deklarasi Malang “ dibacakan oleh Fahri Hamzah yang mendapat amanah sebagai Ketua Umum, dan setelah itu dilakukan penandatanganan piagam deklarasi malang oleh sebagian besar peserta yang hadir.

Kelahiran KAMMI sudah merupakan keniscayaan. Sudah terlalu lama mesjid kampus bergolak, menuntut partisipasi. Para aktifisnya sudah tidak tahan dengan kezaliman rezim Orde Baru yang otoriter. Sebagaimana kita ketahui, pada awal 1980-an setelah pemerintaj melakukan represi luar biasakepada gerakan mahasiswa, muncullah berbagai mesjid dikampus-kampus besar seperti Salman di ITB, Arief Rahmah Hakim di UI, Jama’ah Salahuddin di UGM dll. Masjid kampus semacam ini, dari hari kehari bertambah jumlahnya, dan bertambah pula aktifitasnya. Hal ini kemudian menjadi pola yang fenomental pada awal 90-an… beberapa pengamat gerakan mahasiswa menyebutnya sebagai gerakan mahasiswa yang religius, gerakan ini ditandai oleh kentalnya warna agama ( islam ) dalam setiap kegiatan dan penampilan aktifisnya. Tak lama setelah dideklarasikan, KAMMI melakukan gebrakan aksi perdananya yang mengejutkan, yaitu “ Rapat Umum Mahasiswa dan Rakyat Indonesia “ dilapangan Masjid Al-Azhar, Jakarta, pada tanggal 10 april 1998. Andi Rahmat menyebutkan lima alasan kenapa Aksi perdana ini menjadi fenomenal dan mengejutka, yaitu : v Jumlah massa Aksi yang hadir tergolong besar, yaitu sekitar 20 ribu orang.v Aksi tersebut merupakan Aksi pertama mahasiswa yang dilakukan diluar kampus.v Aksi massa besar diluar kampus itu ternyata berjalan secara tertib dan aman.v Isu utama yang diangkat adalah “ Reformasi Total “ sebagai jalan penyelesaian krisis.v Ini merupakan Aksi pertama mahasiswa yang mampu memobilisasi dan mengkonsolidasi massa rakyat. Dalam aksi ini hadir ibu-ibu rumah tangga, buruh-buruh korban PHK, dan beragam unsur lainnya



Like And Share ^^

Hadie's Story


Wednesday, 17 December 2014

0 Penjelasan Iman Kepada Allah

Aqidah salafush shalih -ahlus sunnah wal jamaah dalam prinsip-prinsip keimanan terangkum dalam iman dan tashdiq(pembenaran) terhadap rukun iman yang enam sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits Jibril, tatkala datang untuk menanyakan tentang iman kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari Akhir dan (hendaknya) pula engkau beriman dengan qadar baik maupun buruk.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Kitaabul Imaan). (HR. Muslim no. 8, Ahmad (VIII/27,51-52), Abu Dawud no. 4695, at-Tirmidzi no. 2610, an-Nasa-i (VIII/97) dan Ibnu Majah no. 63 serta yang lainnya.

Keimanan bersendikan pada keenam rukun ini. Jika salah satu rukun jatuh, maka seseorang tidak dapat menjadi mukmin sama sekali, karena ia telah kehilangan salah satu dari rukun iman. Jadi keimanan itu tidak akan berdiri kecuali di atas rukunnya yang sempurna, sebagaimana bangunan tidak akan berdiri tegak kecuali di atas pilar-pilarnya yang sempurna pula. Enam perkara ini disebut “Rukun Iman”. Maka tidaklah sempurna iman seseorang kecuali dengan mengimani semua rukun diatas dengan cara yang benar sesuai dengan apa yang ditunjukkan Al-Quran dan As-Sunnah. Barangsiapa mengingkari salah satu darinya, maka ia bukanlah seorang mukmin.

Rukun Pertama:

Iman Kepada Allah

Beriman kepada Allah Ta’ala membenarkan secara pasti tentang keberadaan (wujud) Allah, semua kesempurnaan dan keagungan yang dimiliki-Nya, hanya Dia-lah yang berhak untuk diibadahi, hati diiringi dengan kemantapan akan hal itu yang tercemin dari perilakunya, konsekuen dengan perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Iman kepada Allah adalah prinsip dan dasar dari ‘Aqidah Islam. Semua rukun ‘aqidah, bersumber darinya dan mengikutinya.

Maka beriman kepada Allah mengandung arti beriman dan ke-Esaan-Nya dan Dia-lah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi, karena keberadan-Nya tidak diragukan lagi. Keberadaan Allah telah terbukti baik secara fithrah, akal, syari’at maupun indera.

Termasuk beriman kepada Allah Ta’ala ialah beriman kepada ke-Esaan-Nya, Uluhiyah-Nya dan Asma’ dan Sifat-Nya. Yaitu dengan menetapkan tiga macam tauhid, myakininya dan mengamalkannya :

1) Tauhid Rububiyah

2) Tauhid Uluhiyah

3) Tauhid Asma’wa Sifat

1. Tauhid Rububiyah :

Maknanya adalah keyakinan yang pasti bahwa hanya Allah semata Rabb dan Pemilik segala sesuatu, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia-lah Yang Mahapencipta, Dia-lah yang mengatur alam dan yang menjalankannya. Dia-lah yang menciptakan para hamba, yang memberi rizki kepada mereka, menghidupkan dan mematikannya. Dan beriman kepada qada’ dan qadar-Nya serta ke-Esaan-Nya dalam Dzat-Nya. Ringkasnya bahwa tauhid Rububiyah Allah Ta’ala dalam segala perbuatan-Nya:

Dalam dalil syar’i telah menegaskan tentang wajibnya beriman kepada Rububiyyah Allah Ta’ala seperti dalam firman-Nya, “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (Al-Fatihah:2)

Dan firman-Nya, “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” (Al-A’raaf : 54)

Firman-Nya, “Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untukmu….”(Al-Baqarah :29).

Dan Firman-Nya, “Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (Adz-Dzariyaat: 58).

Macam tauhid ini tidak diperselisihkan oleh orang-orang kafir Quraisy dan para penganut aliran dan agama. Maksudnya mereka semua beri’tiqad bahwa Pencipta alam semesta ini hanyalah Allah semata. Allah SWT berfirman tentang mereka, “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah.”(Luqman: 25)

Dan firman-Nya, “Katakanlah, “Kepunyaannya siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allah.‘ Katakanlah, ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah, Maka apakah kamu tidak bertakwa? Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab : ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah Allah.’ Katakanlah: (Kalau demikian), maka dari jalan mankah kamu ditipu ?’ Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (Al Mukmin: 84-90).

Yang demikian itu, karena hati manusia secara fitrah mengakui Rububiyyah-Nya oleh karena itu, seseorang tidak menjadi orang yang bertauhid sehingga ia mengakui dan konsisten dengan macam kedua dari ketiga macam tauihid tersebut, yaitu:

2. Tauhid Uluhiyah :

Yaitu mengesahkan Allah Ta’ala melalui perbuatan para hamba, dinamakan juga dengan tauhid ibadah. Maknanya adalah keyakinan yang pasti bahwa Allah adalah Ilah(sesembahan) yang haq dan tidak ada ilah selain-Nya, segala yang diibadahi selain-Nya adalah bathil, hanya Dia-lah yang patut diibadahi, baginya ketundukan dan ketaatan secara mutlak. Tidak boleh siapapun dijadikan sebagai sekutu-Nya dan tidak boleh bentuk ibadah apapun diperuntukannya kepada selain-Nya, seperi shalat, puasa, zakat, haji,do’a, dan isti’anah (meminta pertolongan), nadzar, menyembelih, tawakal, khauf (takut), harap, cinta dan lain-lain dari macam-macam ibadah yang zahir (tampak) maupun bathin. Ibadah kepada Allah harus dilandasi dengan rasa cinta, cemas, dan harap secara bersamaan. Beribadah kepada-Nya dengan sebagian saja dan meninggalkan sebagian lainnya adalah kesesatan.

Allah Ta’ala berfirman, “Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.” (Al-Faatihah: 5).

Dan firman-Nya pula, “Dan barangsiapa beribadah kepada ilah yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya disisi Rabb-nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu adalah beruntung.” (AlMukminun: 117).

Tauhid Uluhiyyah adalah inti dakwah yang diserukan oleh para Rasul. Dan pengingkaran terhadap hal itu merupakan penyebab dari berbagai malapetaka yang menimpa ummat-ummat terdahulu.

Tauhid Uluhiyyah merupakan awal dan akhir agama, bathin dan lahirnya. Juga merupakan tema pertama dakwa para Rasul dan yang terakhir. Oleh karenanya diutuslah para Rasul, diturunkannya kitab-kitab samawi, disyari’atkan jihad, dibedakan antara orang muslim dengan orang kafir, dan penghuni surga dengan penghuni neraka.

Itulah makna firman Allah, “…Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah…” (Ash-Shaafffat: 35).

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelummu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada ilah (yang hak) melainkan Aku, maka beribadah kamu hanya kepada-Ku.” (Al-Anbiyaa’: 25)

Yang menjadi Rabb Yang Maha Pencipta, Pemberi Rizki, Yang Menguasai, Yang Mengatur, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, yang disifati dengan semua sifat kesempurnaan, yang suci dari segala kekurangan, segala sesuatu (berada) di tangan-Nya maka pasti Dia adalah Rabb Yang Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak boleh ibadah itu dipalingkan kecuali kepada-Nya semata. Allah Ta’ala berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyaat: 56).

Tauhid Uluhiyyah merupakan konsekuensi dari tauhid Rububiyyah. Hal tersebut karena orang-orang musyrik tidak menyembah Rabb yang Esa, akan tetapi mereka menyembah banyak rabb bahkan mereka menganggap rabb-rabb tersebut dapat mendekatkan mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Walaupun demikian, mereka mengakui bahwa rabb-rabb tersebut tidak ada mendatangkan mudharat maupun manfaat. Oleh karena itu, Allah tidak menggolongkannya sebagai orang-orang kafir sebab mereka mempersekutukan-Nya dengan salain-Nya dalam ibadah.

Dari sini, aqidah salafush shalih -Ahlus Sunnah wal Jamaah berbeda dengan yang lainnya dalam hal tauhid uluhiyyah. Ahlus Sunnah tidak mengartikan tauhid seperti pendapat sebagian kelompok bahwa makna tauhid itu “adalah tidak ada Pencipta kecuali Allah,” akan tetapi menurut mereka tauhid uluhiyyah tidak terlealisir kecuali bila ada dua prinsip:

Pertama : Agar semua bentuk ibadah hanya ditunjukkan kepadan-Nya SWT tidak boleh kepada yang selain-Nya dan makhluk tidak diberikan hak apapun dari hak-hak Pencipta dan ciri-ciri khas-Nya.

Maka tidak boleh diibadahi kecuali Allah, tidak boleh shalat kepada selain-Nya, tidak boleh sujud kepada selain-Nya, tidak bernadzar kepada selain-Nya dan tidak bertawakkal kepada selain-Nya. Tauhid Uluhiyyah itu menuntut pengesahan Allah dalam ibadah.

Ibadah: Mencakup perkataan hati dan lisan atau juga berupa perbuatan hati dan anggota tubuh.

Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matika hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Al-An’aam: 162-163).

Allah SWT berfirman, “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)….” (Az-Zumar: 3)

Kedua: Ibadah itu harus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya SAW.

Mentauhidkan Allah SWT dalam ibadah, tunduk dan taat adalah realisasi dari syahadat: “Laa Ilaha Illahlahu (tidak ada ilah yang diibadahi kecuali Allah).”

Mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah SAW, dan mentaati apa yang diperintahkannya serta dilarangnya adalah realisasi dari syahadat: “Muhammadur Rasulullah (Muhammad adalah utusan Allah).

Manhaj ahlus sunnah wal jamaah: mereka beribadah hanya kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, mereka tidak memohon kecuali hanya kepada Allah dan tidak meminta bantuan (beristighatsah) kecuali kepada-Nya SWT, tidak bertawakal kecuali kepada-Nya, tidak taku kecuali kepada-Nya dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan (melakukan) ketaatan ibadah kepada-Nya serta dengan melakukan amalan-amalan yang shalih. Allah Ta’ala berfirman, “Beribadah kepada Allah dan jangannlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (An-Nisaa’: 36).

3. Tauhid Asma’wa Sifat:

Yaitu keyakinan dengan pasti bahwa Allah SWT mempunyai asmaul husna (nama-nama yang baik), dan sifat-sifat yang mulia. Dia memiliki semua sifat yang sempurna dan suci dari segala kekurangan. Dia-lah Yang Maha Esa dan sifat-sifat tersebut, tidak dimiliki oleh makluk-Nya.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Mengetahui Rabb mereka dengan sifat-sifat-Nya yang terdapat dalam al-Qur-an dan as-Sunnah. Mereka menyifati Rabb-nya seperti apa yang Allah SWT telah sifatkan untuk diri-Nya dan seperti apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya SAW, tidak melakukan tahrif (penyelewengan) ungkapan-ungkapan dari konteks pengertian yang sebenarnya, ataupun ilhad (Al-Ilhad yaitu berpaling dari kebenaran; dan termasuk kategori ilhad adalah: ta’thil (mengabaikan), tahrif (menyimpangkan), takyif (menfisualiasikan) dan tamstil (menyerupakan) sifat Allah. Ta’thil: Tidak menetapkan sifat-sifat Allah atau menetapkan sebagaiannya dan menafikan sisanya, Tahrif: Merubah nash baik sifat secara lafazh kepada makna yang lafazhnya tidak menunjukkan kepadanya kecuali dengan kemungkinan makna yang marjub (tidak kuat). Maka setiap tahrif adalah ta’thil dan tidak semua ta’thil adalah tahrif, takyif: Menjelaskan hakekat sifat, atau (bertanya dengan lafazh bagaimana), Tamstil: Menyerupakan sesuatu dengan Allah dari segala segi) dalam nama-nama-Nya dan ayat-ayat-Nya, dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang telah ditetapkan untuk dirinya-Nya tanpa tamstil, takyif, ta’thil dan tahrif. Dasar mereka dalam semua masalah ini adalah firman Allah, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (As-Syuura: 11).

Dan firman-Nya, “Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raaf: 180).

Ahlus sunnah wal jamaah: Mereka tidak membatasi “kaifiyyah” (bagaimanakan) sifat-sifat Allah Ta’ala, karena Dia -Tabaraka wa Ta’ala- tidak mengabarkan tentang kaifiyyah-Nya dan karena tiada seorang pun yang lebih mengetahui daripada Allah SWT tentang diri-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah: ‘Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah?….”(Al-Baqarah: 140)

Dan firman Allah SWT, “Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 74)

Dan tiada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah daripada Rasul-Nya SAW setelah Allah, yang mana Allah SWT telah berfirman tentang beliau, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur-an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”(An-Najm: 34)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Allah SWT “Yang Awal” yaitu yang telah ada sebelum segala sesuatu ada dan “yang Akhir” yaitu yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah, “Yang Zhahir” ialah tiada di atas-Nya suatu apapun, dan “Yang Bathin” ialah tidak suatu apapun yang menghalangi-Nya. Seperti firman Allah SWT, “Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Hadiid: 3).

Sebagaimana Dzat-Nya SWT tidak menyerupai dzat-dzat yang lain; maka demikian juga sifat-sifat-Nya tidak menyerupai sifat-sifat (makhluk-Nya). Karena Dia tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya dan tidak boleh dianalogikan dengan ciptaan-Nya. Maka ahlus sunnah wal jamaah benar-benar menetapkan bagi Allah apa yang telah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dengan penetapan tanpa tamtsil dan menyucikan tanpa ta’thil. Jadi ketika mereka menetapkan bagi Allah apa yang ditetapkan Allah untuk diri-Nya, maka mereka tidak men-tamtsil. Dan jika menyucikan-Nya, maka mereka tidak men-ta’thil sifat-sifat-Nya yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya. (Tidak boleh sama sekali seorang berkhayal baik tentang “kaifiyyah” Dzat Allah maupun sifat-Nya).

Bahwasanya Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Pencipta segala sesuatu dan Maha Pemberi rizki semua yang hidup. Allah Ta’ala berfirman, “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan kamu merahasiakan); dan dia maha halus lagi maha mengetahui.” (Al-Mulk: 14).

Dan berfirman pula, “Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dzariyaat: 58).

Ahlus sunnah wal jamaah mengimani bahwa Allah Ta’ala itu beristiwa’(Ber-istiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy dan al-‘Uluuw (Maha Tinggi) adalah dua sifat yang kita tetapkan bagi Allah Ta’ala dengan penetapan yang sesuai dengan keagungan-Nya. Sedang interprestasi kata “istiwa” menurut ulama Salaf adalah: Istaqarra = menetap, ‘alaa = tinggi, irtafa’a = tinggi dan sha’ada = naik. Ulama salaf menginterprestasikan kata tersebut dengan arti-arti diatas, tidak melampaui batas dan tidak menambah dari (semestinya). Dan tidak pernah ada dalam interprestasi salaf (kata istiwa) dengan arti: istaula=menguasi, atau Malaka=menguasai/memerintah, dan atau Qahara = menundukkan/mengalahkan. Kaifiyyahnya tidak diketahui, maka tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Mengimani hal ini adalah wajib, karena terdapat beberapa dalil yang mendasarinya. Menanyakan tentang hal tersebut adalah bid’ah, karena kaifiyyah istawa’ Allah tidak ada seorang pun yang mengetahui kecuali Allah. Dan juga karena para Sahabat Nabi tidak ada yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kaifiyyah istiwa’ Allah di atas Arsy berada di atas langit yang ketujuh, terpisah dari makhluk-Nya namun mengetahui segala sesuatu, seperti yang Allah firmankan tentang diri-Nya dalam kitab-nya yang mulia dalam tujuh ayat tanpa menjelaskan kaifiyyah-Nya. (Yaitu secara berurutan, surat : (al-A’raaf: 54), (Yunus: 3), (ar-Ra’d: 2) (Thaahaa: 5), (al-Furqaan: 59), (as-Sajdah: 4) dan (al-Hadiid: 4).

Allah Ta’ala berfirman, “Rabb Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” ( Thaahaa: 5). (Imam al-Hafizh Ishaq bin Rahawih r.a. berkata tentang ayat ini: “Para ulama bersepakat bahwa Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan mengetahui segala sesuatu apa yang di bawah lapisan bumi yang tujuh.” Diriwayatkan oleh Imran adz-Dzahabi dalam kitab: Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffaar.

Allah Ta’ala berfirman, “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataaan yang baik dan amal yang shahih dinaikkan-Nya” (Fathir: 10).

Dan firman-Nya, “Mereka takut kepada Rabb mereka yang diatas mereka.” (An-Nahl: 50).

Nabi SAW bersabda, “Tidaklah kalian percaya kepadaku, sedang aku adalah kepercayaan siapa yang di atas langit?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). (HR. Al-Bukhari no. 4351 dan Muslim no. 1064 (144) dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah: mengimani bahwa “al-Kursi” dan “al-Arsy” itu benar (adanya).

Allah Ta’ala berfirman, “…Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al Baqarah: 255).

Al-‘Arsy tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kadar besarnya kecuali Allah, sedang al-Kursi dibanding al-‘Arsy bagaimana gelang yang terletak di padang pasir, ukurannya seluas langit dan bumi. Allah tidak membutuhkan al-’Arsy dan al-Kursi, Allah beristiwa’ di atas al-‘Arsy bukan karena membutuhkannya, tetapi hal itu karena ada hikmah yang hanya diketahui oleh Allah. Allah Maha Suci dari sifat membutuhkan kepada al-‘Arsy, apa lagi kepada apa yang dibawahnya, kedudukan Allah SWT lebih Agung dari hal itu. Bahkan al’Arsy dan al-Kursi itu diangkat dengan kekuasaan dan keagungan-Nya.

Allah Ta’ala menciptakan Adam a.s. dengan kedua tangan-Nya, keduanya adalah kanan dan keduanya terbuka, Allah memberi nafkah sebagaimana Dia kehendaki. Seperti yang Allah sifati sendiri untuk diri-Nya dalam firman-Nya, “Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu. “sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu (tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (Shaad: 75).

Dan firman-Nya, “Apakah yang menghalangi kamu (Iblis) sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku?” (Shaad: 75)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan bagi Allah: pendengaran, penglihatan, ilmu, kekuasaan, kekuatan, kemuliaan, kebersamaan (ma’iyyah), firman, hidup, telapak kaki, betis, tangan dan lain-lain dari sifat-sifat yang telah Allah sifatkan sendiri untuk diri-Nya dalam kitab-Nya yang mulia dan melalui lisan Nabi-Nya SAW dengan kaifiyyah yang hanya Allah-lah yang mengetahuinya sedang kita tidak mengetahuinya, karena Dia tidak mengabarkan kepada kita tentang kaifiyyah-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua (Musa dan Harun), Aku mendengar dan melihat.” (Thaahaa: 46).

Dan beberapa firman-Nya, “Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Tahriim: 2)

“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dan langsung.” (An-Nisaa’: 164)

“Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 27).

“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (Al-Maa-idah: 54)

“Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka.” (Az-Zukhruuf: 55).

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa.” (Al-Qalam: 42)

“Allah, tidak ada Rabb (yang berhak diibadah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus mengurus makhluk-Nya.” (Ali ‘Imran: 42).

“……Allah telah murka kepada mereka…..” (Al-Mumtahannah: 13)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah: mengimani bahwa orang-orang Mukminin akan melihat Rabb mereka di akhirat dengan mata kepala mereka dan mereka mengunjungi-Nya, Allah akan berbicara dengan mereka dan sebaliknya mereka akan berbicara dengan-Nya. Allah berfirman, “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada rabb-nyalah mereka melihat.” (Al-Qiyaamah: 22-23)

Dan mereka akan melihat-Nya seperti halnya melihat bulan pada malam bulan purnama, mereka tidak berdesak-desakan saat melihat-Nya. Seperti yang disabdakan Nabi SAW, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian, seperti kalian melihat bulan di malam bulan purnama, kalian tidak akan berdesak-desakan saat melihat-Nya.” (Muttafaq’alaihi). (HR. Al-Bukhari no. 554 dan Muslim no. 633 (211), dari Sahabat Jarir bin ‘Abdillah r.a. Lafazh bermakna tidak terhalang oleh awan, bisa juga dengan lafazh yang bermakna tidak berdesak-desakan. Lihat Fat-hul Baari (II/33).

Allah ta’ala turun ke langit dunia pada seperti malam dengan turun sebenar-benarnya sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.

Nabi SAW bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir, seraya berfirman : ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka pasti Aku memperkenankan do’anya, siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku memberinya, dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku mengampuninya.” (Mutafaq’alaihi). (HR. Al-Bukhari no. 7494 (168), at-Tirmidzi no. 3498, Abu Dawud no. 1315, 4733 dan Ibnu Abi ‘Asihim dalam as-Sunnah no. 492).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Allah ta’ala datang pada hari Akhir untuk mengadili di antara para hamba-Nya dengan datang secara hakiki sesuai dengan keagungan-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Jangan (berbuat demikian)! Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabb-mu; sedang Malaikat berbaris-baris.” (Al-Fajar: 21-22)

Dan firman-Nya, “Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan Malaikat (pada hari Kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskan perkaranya.” (Al-Baqarah: 210)

Maka manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam semua hal tersebut: mengimani secara sempurna dan menerima (taslim) apa yang dikabarkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya SAW.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam az-Zuhri, “Risalah itu datangnya dari Allah, dan tugas Rasul adalah menyampaikan (risalah tersebut) sedang kewajiban kita adalah taslim (patuh/tunduk).” (Diriwayatkan oleh Imam al-Baghawi, dalam kitab Syarbus Sunnah (I/217). Lihat Fat-hul Baari (XIII/503).

Seperti juga yang dikatakan oleh Imam Sufyan bin ‘Uyainah, “Semua yang Allah Ta’ala sifatkan untuk diri-Nya dalam al-Qur-an, maka bacaannya adalah tafsirnya, tidak ada kata ‘bagaimana’ dan tidak ada tandingannya.” (Dirawayatkan oleh Imam al-Lalika-i, dalam kitab Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, no. 736).

Imam asy-Syafi’i juga berkata, “Aku beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya sesuai dengan apa yang dimaksud Allah. Aku beriman kepada Rasul-Nya dan apa yang datang darinya sesuai dengan apa yang dimaksudkan Rasulullah.” (Lihat, Lum’atul I’tiqaad al-Haadi ilaa Sabilir Rasyaad, karya imam ibnu Qudamah al Magdisi yang disyarah oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab al-‘Aqil (I/83) cet. Maktabah Adhwaa-us Salaf, tahun 1419 H).

Al-Walid bin Muslim berkata: “Aku bertanya kepada Al-Auza’i, Sufyan bin ‘Uyainah dan Malik bin Anas tentang hadits-hadits dalam masalah sifat dan ru’yah, maka mereka menjawab, “‘Perlakukanlah sebagaimana apa adanya, tanpa menanyakan bagaimananya.’ (Diriwayatkan oleh Imam al-Baghawi, dalam kitab Syarhus Sunnah (I/171), lihat ‘Aqiidatus Salaf Ashhaabil Hadiits oleh Syaikhul Islam Abu ‘Utsman Ismail bin ‘Abdurrahman ash-Shabuni, tahqiq Badr bin ‘Abdullah al-Badr no. 90 dan Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh al-Lalika-i no. 875).

Imam Malik bin Anas -Imam Darul Hijrah- berkata: “Waspadalah kalian terhadap perbuatan bid’ah!” Beliau ditanya: “Apakah bid’ah itu?” Beliau menjawab: “Ahli bid’ah adalah mereka memperbincangkan Asma’ Allah, Sifat-sifat-Nya, kalam-Nya, ilmu-Nya dan kekuasaan-Nya. Mereka tidak diam seperti diamnya pada sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. (Diriwayatkan oleh Imam al-Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah (I/217).

Seseorang bertanya kepada Imam Malik bin Anas tentang maksud Firman Allah, “(Yaitu) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy.” (Thaahaa: 5)

Beliau menjawab, “”Istiwa’-nya Allah tidaklah majhul (diketahui maknanya), dan kaifiyyatnya tidak dapat dicapai akal (tidak diketahui), dan beriman kepadanya wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perbuatan bid’ah dan aku tidak melihatmu kecuali engkau adalah seorang yang sesat.”

Kemudian beliau menyuruh agar orang tersebut dikeluarkan dari majlis ilmu beliau.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Baghawi, dalam kitab Syarhus Sunnah). (Dikeluarkan oleh al-Lailak-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah no. 664, Mukhtashar al-‘Uluw oleh Imam ad-Dzahabi, Tahqiq Syaikh al-Albani, hal. 141-142, cet. Al-Maktab al-Islami, th. 1412 H.)

Imam Abu Hanifah berkata: “Seseorang tidak boleh berbicara sedikit pun tentang Dzat Allah, namun hendaknya ia mensifati-Nya dengan sifat-sifat yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya. Dan tidak mengatakan dalam hal ini dengan sependapatnya semata. Mahasuci Allah lagi Maha Tinggi, Rabb semesta alam.”

Ketika beliau ditanya tentang sifat nuzul(turunnya Allah ke langit dunia), maka beliau berkata: “Dia turun dan (jangan bertanya) ‘bagaimana’ (Dia turun)? (Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah Tahqiq Syu’aib al-Arna-uth dan Dr. ‘Abdul Muhsin at-Turki, hal. 264-269).

Imam al-Hafizh Nu’aim bin Hammad al Khuza’i berkata, “Barangsiapa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Dan barangsiapa mengingkari apa yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya, maka ia telah kafir. Apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya maupun (disifatkan oleh) Rasul-Nya bukanlah tasybih (penyerupaan).” (Diriwayatkan Imam adz-Dzahabi, dalam kitab al-‘Uluuw lil ‘Aliyyil Ghoffar). (Hal. 184 no. 217).

Sebagian Salaf berkata, “Pijakan Islam tidak akan kokoh kecuali di atas jembatan taslim (penyerahan diri kepada Allah dan Rasul-Nya).” (Diriwayatkan oleh Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah hal.171. Lihat pula Syarhul ‘Aqiidatith Thahaawiyyah tahqiq Syaikh al-Albani hal. 201, ‘Aqiidatus Salaf Ashhaabil Hadits oleh Imam ash-Shabuni no. 91).

Oleh karena itu, barangsiapa mengikuti metode Salaf dalam berbicara tentang Dzat Allah Ta’ala dan sifat-Nya, maka ia akan konsisten dengan manhaj al-Qur-an tentang Asma’ Allah dan Sifat-sifat-Nya; meskipun orang tersebut hidup pada zaman Salaf maupun pada zaman yang datang kemudian.

Sebaliknya, barangsiapa berselisih dengan Salaf dan manhajnya, maka ia tidak akan konsisten dengan manhaj al-Qur-an, walaupun ia berada di zaman salaf bahkan sekalipun ia hidup di antara pada sahabat dan Tabi’in.

Sumber: Diadaptasi dari Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis Sunnah wal Jama’ah), atau Intisari Aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah), terj. Farid bin Muhammad Bathathy (Pustaka Imam Syafi’i, cet.I), hlm. 68 -91.