Thursday, 20 November 2014

0 Mengenal Laporan Keuangan

Pada dasarnya informasi keuangan terdiri dari dua komponen pokok, yaitu laporan keuangan dan informasi keuangan lainnya, berikut penjelasan dalam gambar:
Laporan keuangan (accounting statements) adalah hasil yang diperoleh dari proses akuntansi keuangan yang bermanfaat dalam memberikan informasi keuangan bagi pihak intern dan ekstern suatu perusahaan. Laporan keuangan juga sebagai penghubung antara data keuangan (aktivitas perusahaan) dengan pihak yang berkepentingan. Berikut beberapa daftar laporan keuangan: 1. Neraca (Balance Sheet) Adalah suatu daftar laporan yang sistematis yang berisi ringkasan aktiva (assets), utang/kewajiban (liabilities), dan modal (equity) dari suatu perusahaan yang ditutup pada tanggal terakhir periode akuntansi. 2. Laporan Laba Rugi (Income Statement) Adalah laporan yang menunjukkan ringkasan penghasilan (pendapatan), biaya, rugi dan laba yang diperoleh perusahaan pada periode tertentu. 3. Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement) Adalah laporan yang berhubungan dengan aliran kas masuk dan keluar dari suatu perusahaan dalam periode tertentu. 4. Catatan Atas Laporan Keuangan Catatan ini bermanfaat dalam memberikan informasi tambahan, seperti tambahan informasi dalam neraca perhitungan laba rugi yang tidak bisa ditunjukan secara jelas, gunakanlah tanda kurung untuk menjelaskan secara langsung dalam laporan. Penyusunan Laporan Keuangan Siklus akuntansi adalah sebuah proses untuk menyediakan laporan keuangan suatu perusahaan dalam periode waktu tertentu. Siklus ini menjelaskan dari awal terjadinya transaksi hingga proses penyajian laporan keuangan pada akhir periode akuntansi. Ada yang juga yang mengartikan bahwa siklus akuntansi adalah tahapan urutan transaksi serta proses peristiwa aktivitas akuntansi dari awal periode sampai akhir periode dengan tidak terputus, dalam artian berputar (siklus). Tahapan siklus akuntansi terdiri dari: - Tahap pencatatan, mulai dari pencatatan awal dokumen transaksi, pencatatan jurnal, pemindahan akun ke buku besar, dan pencatatan dalam neraca saldo. - Tahap pengikhtisaran, mulai dari pengikhtisaran dalam jurnal penyesuaian, jurnal pembalik dan neraca lajur. - Tahap pelaporan, terdiri dari laporan keuangan, jurnal penutup, dan NSSD (Neraca Saldo Setelah Penutupan) Berikut penjelasan siklus akuntansi dalam gambar:
Keterangan Gambar: Langkah pertama proses akuntansi adalah melakukan survei untuk transaksi keuangan. Survei dilakukan terhadap bukti transaksi keuangan, diantaranya nota, memo, cek, bon, dll. Setelah melakukan survei kemudian melakukan perencanaan untuk menganalisa bukti transaksi. Langkah selanjutnya setelah melakukan analisa bukti transaksi adalah pencatatan transaksi dalam buku jurnal, dilanjutkan dengan pengelompokan transaksi keuangan pada buku besar (pemostingan), semua transaksi yang sudah dikelompokan akan dijumlah di dalam buku besar yang akan menghasilkan saldo debet dan kredit. Saldo inilah yang nantinya akan dimasukan ke dalam neraca saldo. Langkah berikutnya adalah melakukan pencatatan data penyesuaian pada jurnal penyesuaian. Kemudian setelah melakukan penyesuaian pada jurnal penyesuaian langkah berikutnya adalah menyusun neraca lajur yang di dalamnya dihasilkan perhitungan neraca saldo disesuaikan, laba rugi dan neraca. Kemudian setelah menyusun neraca lajur, langkah berikutnta adalah menyusun laporan keuangan. Setelah menyusun laporan keuangan, langkah berikutnya adalah menyusun penutupan buku. Penutupan buku adalah persiapan untuk memasuki periode akuntansi berikutnya. Langkah berikutnya adalah pemostingan jurnal penyesuaian dan jurnal penutup ke dalam buku besar. Langkah terakhir setelah posting ke buku besar adalah pembuatan neraca saldo setelah penutupan dan jurnal pembalik.

0 Pengantar Akuntansi Dasar

Pengertian sederhana dari akuntansi adalah suatu ilmu yang digunakan untuk mempelajari aktivitas pengeluaran dan pemasukan keuangan. Sedangkan pengertian akuntansi dalam artian luas adalah proses kegiatan jasa untuk mengolah data-data keuangan atau input yang nantinya akan menghasilkan informasi keuangan atau output dalam ukuran uang yang bermanfaat bagi beberapa pihak yang berkepentingan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi. Pihak-pihak yang membutuhkan informasi keuangan akuntansi adalah: 1. Pihak intern Pihak intern adalah manajemen perusahaan, informasi keuangan sangat dibutuhkan oleh pihak manajemen perusahaan untuk mengetahui perkembangan keuangan perusahaan yang dikelolanya. Laporan keuangan aka dijadikan dasar penyusunan anggaran dan perumusan kebijakan ekonomi perusahaan. Karyawan, informasi keuangan sebagai dasar untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam pemberian, gaji, fasilitas, bonus dan untuk menilai prospek perusahaan sehingga dapat dijadikan dasar untuk memutuskan akan tetap bekerja di perusahaan tersebut atau pindah. 2. Pihak ekstern - Pemilik perusahaan, informasi keuangan dijadikan dasar untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dan sebagai dasar untuk menilai kinerja dari manajemen perusahaan. - Bank atau Kreditur, informasi keuangan dijadikan dasar oleh pihak kreditur atau bank untuk menilai tingkat kesehatan suatu perusahaan yang akan dan telah melakukan pinjaman modal dan infromasi keuangan juga dijadikan dasar untuk mengetahui tingkat kemampuan debitur dalam mengembalikan kewajibannya (utang/pinjaman). - Investor, informasi keuangan dijadikan dasar dalam berinvestasi. Apakah modal yang diinvestasikan dalam suatu perusahaan akan memberikan keuntungan atau tidak. - Pemerintah, informasi keuangan digunakan sebagai dasar dalam penetapan besaran pajak yang akan dibayarkan oleh suatu perusahaan dan juga untuk mengetahui kemampuan suatu perusahaan dalam pemberian UMR karyawan serta pemberian fasilitas-fasilitas bagi karyawan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan peraturan yang berlaku. 3. Pihak-pihak lain Pihak-pihak lainnya diantaranya mahasiswa yang membutuhkan informasi keuangan suatu perusahaan untuk menyusun skripsi, lembaga sosial sebagai dasar untuk menentukan suatu perusahaan yang akan dimintai untuk memberikan sumbangan atau donatur, dan calon relasi kerja untuk memutuskan apakah jadi bekerjasama atau tidak. Sumber : http://seputarpendidikan003.blogspot.com/2013/06/pengantar-akuntansi-dasar.html

Tuesday, 18 November 2014

0 8 Sifat Khawarij dalam Sunnah

Oleh: Badrul Tamam Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya. Istilah khowarij semakin popular akhir-akhir ini. Setelah sejumlah kelompok menggelari pejuang Islam yang melawan kezaliman penguasanya yang menolak syariat Islam sebagai khowarij. Atau sejumlah aktifis yang memberikan kritik dan menuntut kemashlahatan mereka dengan aksi massa digelari khowarij karena melawan pemerintah. Juga munculnya sejumlah kelompok yang mengumbar takfir terhadap pihak-pihak yang dianggap menyimpang dari kalangan muslimin. Ringkasnya, istilah khowarij sudah diumbar dan disematkan dengan cara hak maupun batil. Diakui bahwa khowarij merupakan satu kelompok yang banyak disebutkan oleh sunnah dengan peringatan sangat keras. Ada lebih 20 hadits shahih dan hasan yang menerangkan sifat-sifatnya. Ini menunjukkan, khowarij kelompok yang sangat buruk dan berbahaya bagi kaum muslimin. Banyak orang bisa tertipu karena zahir mereka terlihat sangat shalih dan bertakwa. Sangat keras dalam masalah iman dan kekufuran, sangat rajin ibadahnya, dan menunjukkan sikap beda dengan kebanyakan manusia. Terhadap pihak-pihak yang tak sepaham dari kalangan kaum muslimin, mudah mengafirkan sampai menghalalkan darah. Inilah madzhab mereka yang sangat menonjol. Para ulama telah membicarakan tentang ciri-ciri utama kelompok ini, namun semua itu hanya kriteria-kriteria yang mendekati hakikat mereka, petunjuk-petunjuk yang mengindikasikan kelompok ini sepanjang zaman. Syaikh ‘Ammar al-Shoyashinah dalam tulisannya “Sifat-sifat Khawarij dalam Sunnah Nabawiyah” menyebutkan 8 sifat kelompok khawarij yang paling menonjol. Pertama, kelompok ini didominasi orang-orang yang berusia muda. Sedikit sekali orang tua atau sesepuh yang berilmu dan berpengalaman di tengah-tengah mereka. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengisyaratkan, Hudatsa’ al-Asnan. Al-Hafidz Ibnul Hajar dalam Fathul Baari (12287) berkata, “al-Hadats adalah berusia muda.” Kedua, terlalu berani berkomentar (sembrono) dan minus ilmu. Umumnya kelompok khawarij dan anak-anak muda yang mengadopsi pemikiran mereka adalah orang-orang yang memiliki semangat tinggi dalam beragama, namun mereka suka terburu-buru dan tidak sabar. Mereka mudah berkomentar, menyimpulkan hukum dari satu masalah, dan mudah menghakimi. Padahal mereka tidak menguasai disiplin ilmu syar’i dan kaidah-kaidah hukum, berpandangan pendek, berwawasan sempit, dan tidak memiliki bashirah. Sinyal ini terdapat dalam sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tenang sifat mereka, “Hudtsa’ al-Asnan, Sufaha’ al-Ahlam”. Yakni berusia muda dan berpikiran pendek, sempit, dan sembrono. Hal ini menunjukkan bahwa kematangan usia dan pengalaman hidup itu mempengaruhi kepribadian, kemampuan membaca situasi dan menyimpulkannya. Ketiga, berbangga diri (sombong) dan merasa tinggi (hebat). Mereka terlalu membanggakan kemampuan diri dan amal mereka sehingga mereka sering memamerkan jasa dan aktifitas mereka. Mereka merasa yang paling pintar sehingga suka merendahkan para ulama. Menghadapi persoalan dan peristiwa tanpa mau melakukan investigasi dan menelusuri kasusnya, dan tidak mau kembali kepada ulama di bidangnya. Keempat, memiliki semangat tinggi dalam ibadah. Mereka adalah orang-orang yang rajin shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, banyak berdzikir, dan berkorban untuk dien ini. Semua ini yang membuat mereka tertipu dan berbangga diri. Sehingga Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memperingatkan para sahabatnya tentang sifat khawarij, bahwa kuantitas tilawah, shalat dan puasa para sahabat tidak ada apa-apanya di hadapan amal-amal mereka. (HR. Muslim) Kelima, salah memahami ayat-ayat Al-Qur'an bersamaan dengan seringnya mereka membacanya. Kaum khawarij sering menampilkan Al-Qur'an dan berdalil dengannya, tapi tanpa dibarengi ilmu dan pemahaman yang benar. Mereka sering meletakkan ayat bukan pada tempatnya. Sehingga disifati oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, “mereka membaca Al-Qur'an tapi Al-Qur'an itu tidak melampui tenggorokan mereka.” (HR. Muslim) Imam Nawawi menjelaskan maksudnya, “Bacaan Al-Qur'an mereka tidak membawa manfaat untuk mereka kecuali melewati lisan mereka saja, bacaan itu tidak sampai kepada hati mereka.” Keenam, hebat dalam beretorika dan orasi. Kalimat-kalimat mereka sangat bagus dan indah. Mereka ahli berargumen dan menyeru kepada tahkim syariah sehingga hukum itu dikembalikan kepada Allah dan mengajak memerangi orang murtad dan kafir. Tapi perbuatan mereka menyalahi perkataannya. Orang-orang murtad dan kafir menurut mereka tidak seperti yang dipahami para ulama. Serampangan dalam menghukumi kafir dan murtad. Sehingga lebih senang menumpahkan darah sesama muslim yang dianggap kafir daripada menghadapi orang kafir asli yang tak diragukan lagi kekafirannya. Ketujuh, takfir (gampang mengafirkan pihak lain dari kaum muslimin) dan menghalalkan darah mereka. Ini sifat khas mereka yang membedakan dari selainnya. Mereka mengafirkan seenaknya dan menghalalkan darah orang-orang yang berbeda dengannya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan tentang mereka, “Mereka membunuhi orang-orang Islam dan membiarkan penyembah berhala.” (Muttafaq ‘Alaih) Karena sebab inilah, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sangat mencela kaum khawarij. Hal ini karena mereka menghukumi kafir orang-orang yang menyalahi kesimpulan mereka. Saat mereka menghukumi kafir kaum muslimin tersebut, maka mereka menghalalkan darah kaum muslimin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa berkata, “Sesungguhnya mereka menghalalkan darah ahli kiblat (orang Islam) karena mereka meyakini bahwa mereka telah murtad, dan ini lebih banyak daripada mereka menghalalkan darah orang-orang kafir (asli) yang tidak murtad.” Kedelapan, suka tampil beda dari yang lain baik dalam berpakaian, berperilaku dan slogan-slogan. Seperti pada zaman Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu, mereka suka menggunduli rambut. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah mengabarkan cirri mereka ini, “Ciri khas mereka adalah mencukur habis rabutnya.” (HR. Al-Bukhari). Imam al-Qurthubi berkata menjelaskan tentang ciri khas mereka di atas, “Mereka menjadikan itu sebagai tanda bagi mereka karena menolak perhiasan dunia dan simbol untuk dikenal.” Wallahu A’lam. - See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2014/10/23/33536/8-sifat-khawarij-dalam-sunnah/#sthash.9jkkrQg7.dpuf

Wednesday, 1 January 2014

0 Racun-Racun Hati (3): Racun Dalam Perut Perusak Ruh Manusia

Setelah racun lisan dan racun mata, yang juga sangat berbahaya bagi kesehatan hati kita adalah racun perut. Seperti apakah racun perut itu? Racun perut adalah racun yang datang dari makanan atau minuman yang kita masukkan kedalam perut kita. Namun pengertian racun disini bukanlah sebagaimana yang biasa kita pahami. Racun perut yang dimaksud disini meliputi dua hal. 1) Pertama, segala jenis makanan yang haram. Meskipun sedikit, makanan yang haram akan meracuni hati kita. Makanan yang haram bisa dibedakan menjadi dua. Yang pertama, makanan yang secara dzatnya memang sudah haram, seperti daging babi, bangkai, darah, minuman keras, dan sebagainya. Yang kedua, makanan yang haram karena didapatkan dengan cara yang haram seperti mencuri, merampok, menipu, dan sebagainya. Semua jenis makanan yang haram ini akan menyebabkan hati kita menjadi keras. Jangankan makanan yang haram, makanan yang syubhat (yang masih belum jelas kehalalannya) pun bisa mengurangi kekhusyukan dan kenikmatan seseorang dalam beribadah. 2) Adapun racun perut yang kedua adalah makanan-makanan yang dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan, meskipun makanan tersebut halal. Imam Ahmad dan Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits dari Al-Miqdan bin Ma’ad Yakrib bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Tidak ada ‘bejana’ anak cucu Adam yang lebih berbahaya daripada perut mereka (yakni ketika biasa diisi dengan makanan secara berlebihan). Cukuplah bagi seorang manusia beberapa suapan makanan yang bisa mengokohkan otot-otot dan persendiannya. Jika tidak bisa demikian, hendaknya ia mengisi sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga lagi untuk minuman, dan sepertiga yang lainnya untuk nafasnya.” Kedua jenis racun perut diatas bisa mengakibatkan berbagai dampak buruk pada diri seseorang, antara lain: 1) Membuat orang tersebut gampang berbuat maksiat, 2) Membuat orang tersebut berat dan malas untuk beribadah dan melakukan ketaatan kepada Allah, 3) Mengeraskan hati, 4) Melemahkan pemahaman dan kecerdasan, 5) Menguatkan nafsu seksual, dan 6) Menggelorakan emosi. Dari sini tampak jelas betapa racun perut benar-benar berbahaya bagi kualitas ruhani seorang manusia. Dan ini tentunya bisa kita saksikan dengan mata kepala kita sendiri. Betapa banyak orang melakukan kemaksiatan seperti mencuri, korupsi, merampok, menipu dan sebagainya, hanya karena ingin memenuhi hasrat perutnya. Betapa banyak pula orang menjadi malas beribadah dan luntur komitmennya pada agama karena ia terbiasa memuaskan hasrat perutnya tanpa kenal batas. Apakah kita tidak tahu bahwa syetan akan bisa menggoda dan memperdaya kita dengan mudah tatkala kita tidak bisa mengendalikan perut kita? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Sesungguhnya syetan menggoda manusia melalui jalan peredaran darahnya. Oleh karena itu, persempitlah pergerakan syetan dengan banyak berpuasa (karena puasa bisa mempersempit jalan peredaran darah).” (Hadits Muttafaq ‘Alaih dari Ummul Mu’minin Shafiyyah radhiyallahu ‘anha) Tidak hanya membahayakan kesehatan hati dan ruhani kita, mengkonsumsi makanan yang haram juga membahayakan kesehatan jasmani kita, karena tidaklah Allah mengharamkan suatu makanan kecuali pasti ada banyak madharat didalamnya. Demikian pula berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi makanan juga berbahaya bagi kesehatan jasmani kita. Tidak sedikit bukan berbagai macam penyakit fisik yang timbul karena kelebihan gula, kelebihan kolesterol lemak dan kelebihan zat-zat makanan yang lainnya? Karena itu wahai saudaraku, marilah kita semua berusaha untuk mengendalikan perut kita. Karena jika tidak, hal ini akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin menghancurkan agama dan umat ini. Lihatlah, betapa negeri kita sudah diserbu oleh berbagai makanan ala fast food dan yang semacamnya, yang seolah-olah siap mengenyangkan perut kita dan memuaskan lidah kita. Kalau kita sudah terlena dengan semua makanan lezat tersebut maka kita tidak akan lagi memiliki kepekaan terhadap berbagai permasalahan yang melanda agama dan umat ini. Kita akan menjadi budak perut, yang tidak lagi memiliki kepekaan hati! Semestinya kita yang mengaku sebagai umat Islam ini mengambil teladan dari Rasulullah, yang keadaannya dinyatakan oleh Ummul Mu’minin Aisyah sebagai berikut: “Belum pernah keluarga Muhammad kenyang dengan roti gandum selama tiga hari berturut-turut, sejak kedatangan beliau ke Madinah sampai dengan beliau wafat.” Sebagai penutup, marilah kita dengar nasihat seorang ulama dari generasi salaf yang bernama Ibrahim bin Adham. Beliau berkata,”Barangsiapa menjaga perutnya berarti ia menjaga agamanya. Dan barangsiapa bisa menguasai rasa laparnya pastilah ia memiliki akhlaq yang baik. Sesungguhnya maksiat kepada Allah itu jauh dari orang-orang yang lapar dan dekat dengan orang-orang yang terbiasa kenyang.” - See more at: http://www.voa-islam.com/read/smart-teen/2013/12/11/28022/racunracun-hati-3-racun-dalam-perut-perusak-ruh-manusia/#sthash.Xtxm2xZz.dpuf

Friday, 20 December 2013

0 Racun-Racun Hati (2): Racun Pandangan Mata

Sahabat... Setelah membahas tentang racun lisan (fudhulul kalam) sebagai salah satu racun hati, kita beralih pada racun hati lainnya yang tidak kalah berbahayanya: Racun Pandangan Mata (fudhulun nazhar). Racun pandangan mata akan menyerang hati kita tatkala kita mengumbar pandangan mata dan mengarahkan pandangan kita pada hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Diantara pandangan-pandangan mata yang diharamkan, memandang lawan jenis yang bukan hak kita adalah yang paling berbahaya. Memanjakan pandangan kita pada barang-barang mewah di mal, pasar dan sejenisnya juga bisa mendatangkan racun bagi hati kita. Demikian pula terlalu banyak menggunakan penglihatan untuk hal-hal yang sia-sia juga bisa meracuni hati kita. Pandangan mata yang diumbar dan tidak dikendalikan akan merusak hati kita. Ia ibarat panah beracun yang dilesakkan Iblis ke arah hati kita. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits Nabi dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Pandangan mata adalah panah beracun yang dilesakkan oleh Iblis. Barangsiapa memejamkan matanya (dari yang haram) karena Allah, maka Allah akan memberikan pada hatinya lezatnya iman, yang akan ia dapat sampai ia berjumpa dengan-Nya.” Masih dari Imam Ahmad, beliau juga meriwayatkan hadits Nabi yang lain dari Abu Umamah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seorang mukmin ketika melihat kecantikan seorang wanita kemudian ia memejamkan matanya, kecuali Allah akan memberikan kepadanya kenikmatan beribadah.” Ketika ketika memandang sesuatu yang diharamkan oleh Allah, racunnya akan masuk kedalam hati kita. Sebagaimana sifat racun, racun pandangan mata tidak akan bisa hilang begitu saja dari dalam hati kita. Ia akan membekas dalam hati kita, dan tidak mudah bagi kita untuk menghilangkannya begitu saja. Dibutuhkan terapi dan pengobatan yang intensif agar racun tersebut benar-benar hilang dari dalam hati kita. Bersamaan dengan pandangan mata kita terhadap sesuatu yang haram, syetan ikut masuk kedalam hati kita dengan cepat, lebih cepat daripada masuknya udara ke tempat yang kosong. Ketika itulah syetan menghias bagi kita apa yang kita lihat itu, sehingga semuanya tampak mempesona dan membuat kita terpana dan terkesima. Lalu syetan membisikkan janji-janji, harapan-harapan dan lamunan-lamunan pada hati kita, sehingga api syahwat menyala dalam diri kita. Jika kita pada saat itu tidak bisa mengendalikan diri, kitapun akan terjatuh kedalam kemaksiatan yang nyata. Tentang betapa berbahayanya pandangan mata, Imam Al-Ghazali berkata,”(Semua berawal dari) pandangan mata (antara dua lawan jenis), lalu senyuman, lalu sapaan, lalu pembicaraan, lalu janji (untuk bertemu), lalu pertemuan (antara keduanya). Ketika itulah syetan menjadi pihak yang ketiga.” Demikianlah kemaksiatan dan perbuatan yang keji bisa terjadi bermula dari sekadar pandangan mata. Pandangan mata yang diumbar dan tidak dikendalikan juga akan menyibukkan hati kita, sehingga kita menjadi lupa pada berbagai kebaikan dan amal shalih. Ketika itulah kita bisa terjebak untuk menuruti dorongan hawa nafsu dan terlena dalam kelalaian tersebut. ”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS Al-Kahfi: 28) Karena sedemikian berbahayanya pandangan mata jika diumbar dan tidak dikendalikan, Allah menyeru kepada orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, agar menundukkan pandangan mereka dari hal-hal yang terlarang. Dalam QS An-Nuur: 30-31, Allah berfirman,”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya ....” Dan langsung sesudah ayat-ayat ini, Allah berfirman,”Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi....” (QS An-Nuur: 35) Ini adalah sebuah isyarat bahwa kepada orang-orang beriman yang menahan dan menjaga pandangannya, Allah akan memberikan kepada hati mereka cahaya. Ketika itulah, mereka akan mudah menerima berbagai macam kebaikan dari manapun asalnya. Mereka juga akan mampu membedakan yang haq dengan yang batil, yang sunnah dengan yang bid’ah, dan demikian seterusnya. Disamping itu, Allah akan memberikan kepada mereka firasat yang benar, yang mengenai hal ini Rasulullah bersabda,”Takutlah kalian pada firasat seorang mukmin, karena ia melihat dengan cahaya Allah.” Menguatkan hal ini, seorang tabi’in berkata,”Barangsiapa yang zhahirnya disibukkan dengan amalan-amalan sunnah, batinnya senantiasa muraqabah kepada Allah, pandangan matanya ia jaga dari yang haram, dirinya ia cegah dari perkara syubhat, dan perutnya ia beri makan dari yang halal saja, maka tidak akan salah firasatnya." - See more at: http://www.voa-islam.com/read/smart-teen/2013/12/10/28024/racunracun-hati-2-racun-pandangan-mata/#sthash.d8eLkQbg.dpuf

0 Racun-Racun Hati (1): Racun Lisan Perusak Jiwa Manusia

Sahabat... Diantara racun-racun hati, yang selalu disebut pertama kali oleh para ulama adalah racun lisan. Ini dikarenakan banyaknya kemaksiatan dan kerusakan yang disebabkan oleh lisan. Hati dan perasaan bisa tersinggung karena lisan. Gosip yang memerahkan telinga bisa berhembus dengan cepat karena lisan. Fitnah yang dahsyat bisa tersebar karena lisan. Kesalahpahaman terjadi karena lisan. Konflik, pertikaian dan bahkan pertumpahan darah terjadi karena lisan. Sedemikian vitalnya lisan ini sampai-sampai Rasulullah mengukur kualitas keimanan seseorang dari lisannya. Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, ”Tidaklah lurus iman seseorang sampai lurus hatinya. Dan tidaklah lurus hati seseorang sampai lurus lisannya.” (HR Ahmad). Dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata-kata yang baik atau diam saja.” (HR Bukhari dan Muslim). Menegaskan bisa sedemikian berbahayanya lisan jika tidak dijaga, Umar bin Khaththab berkata, ”Barangsiapa banyak bicaranya maka akan banyak tergelincirnya. Barangsiapa banyak tergelincirnya maka banyaklah dosanya. Dan barangsiapa banyak dosanya maka neraka lebih pantas untuknya.” Mu’adz bin Jabal pernah menanyakan berbagai kebaikan kepada Rasulullah. Semuanya pun dijawab oleh Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah balik bertanya kepada Mu’adz, ”Maukah engkau aku beritahu yang lebih besar dari semua kebaikan itu?” Mu’adz menjawab, ”Tentu, wahai Rasulullah.” Maka sambil memegang lisan, Rasulullah bersabda, ”Jagalah ini!” Mu’adz bertanya dengan nada agak protes, ”Wahai Nabi Allah, apakah kita akan dicelakakan oleh apa yang kita ucapkan?” Rasulullah menjawab, ”Kasihan engkau, Mu’adz. Mestinya engkau tahu itu.” Lalu beliau melanjutkan, ”Apakah kiranya yang akan menjerumuskan manusia kedalam api neraka kecuali lisannya?” (HR Turmudzi dan Hakim). Abu Hurairah pernah menceritakan bahwa suatu ketika Nabi ditanya tentang apa yang paling banyak menjadikan manusia masuk surga. Beliau saw menjawab, ”Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Sesudah itu Nabi ditanya apa yang paling banyak menjerumuskan manusia kedalam neraka. Beliau saw menjawab, ”Mulut dan kemaluan.” (HR Ahmad dan Turmudzi). Dari sini jelas bagi kita semua bahwa ternyata lisan kita amat menentukan nasib kita di akhirat. Selamat dan celakanya kita pada hari pembalasan kelak sangat ditentukan oleh sejauhmana kita bisa menjaga lisan kita. Sayangnya, seringkali kita tidak sadar. Seringkali kita lalai terhadap setiap kata yang meluncur dari lisan kita. Padahal dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kata yang ia sangka bukan apa-apa (tidak berdosa) padahal satu kata itu ternyata akan menggelincirkannya selama tujuh puluh tahun didalam neraka.” Dalam redaksi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kata yang tidak ia teliti sebelumnya sehingga akibat satu kata itu ia tergelincir kedalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat.” Masya-allah! Jika demikian, bagaimana dengan keadaan kita selama ini? Apakah kita senantiasa meneliti setiap kata yang keluar dari lisan kita? Ataukah kita tidak pernah mengendalikannya sehingga tanpa sadar hal itu akan melemparkan kita kedalam neraka? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ummu Habibah, Rasulullah bersabda, ”Setiap perkataan anak Adam akan menjadi beban baginya kecuali amar makruf nahi munkar dan dzikrullah.” (HR Ibnu Majah dan Turmudzi). Oleh karena itu, Al-Qur’an dalam banyak tempat memerintahkan kepada kita untuk berbicara dengan tepat. Allah swt berfirman, ”Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bertuturkatalah dengan tepat, niscaya Allah akan memperbaiki untuk kalian amal-amal kalian dan Dia akan mengampuni untuk kalian dosa-dosa kalian.” Demikianlah Allah memerintahkan kepada kita untuk berkata-kata dengan tepat, sesuai dengan tempat, waktu, situasi dan kondisi. Betapa banyak orang yang bermaksud baik akan tetapi ketika ia menyampaikannya dengan tidak tepat maka justru muncul masalah besar. Akhirnya, marilah kita benar-benar menjaga lisan kita. Katakan tidak pada ghibah (menggosip), namimah (memfitnah), kata-kata batil, kata-kata keji, mau menang sendiri, debat kusir, cekcok mulut, nyanyian-nyanyian batil, memuji-muji tidak pada tempatnya, menjelek-jelekkan orang, dan sebagainya. Sebagai penutup, marilah kita dengar pesan Rasulullah ketika Uqbah bin Amir bertanya kepada beliau, ”Wahai Rasulullah, apakah jalan keselamatan itu?” Rasulullah bersabda, ”Tahanlah (jagalah) lisanmu, bahagiakan keluargamu, dan menangislah atas kesalahan-kesalahanmu.” (HR Bukhari dan Muslim) - See more at: http://www.voa-islam.com/read/smart-teen/2013/12/09/28023/racunracun-hati-1-racun-lisan-perusak-jiwa-manusia/#sthash.itrtCWkv.dpuf