Sa’ad bin Abi Waqqash (wafat 55 h)
Nama lengkapnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash bin Uhaib Az-Zuhri dengan julukan “Abu Ishaq”, Ia adalah salah seorang diantara sepuluh orang sahabat yang mendapat kabar gembira bakal masuk surga, dan orang yang pertama dalam melontarkan panah dalam perang Sabillillah, ia orang yang ke empat lebih dulu masuk Islam melalui tangan Abu Bakar ketika umurnya 17 tahun.
Sa’ad bin Abi Waqqash mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dalam peperangan itu ia bergabung dalam pasukan berkuda. Ia berasal dari bani Zuhrah seasal dengan ibu Nabi (Aminah).
Khilafah Umar bin Khaththab mengangkatnya menjadi komandan pasukan yang dikirimkan untuk memerangi orang Persia dan berhasil mengalahkannya pada tahun 15 H di Qadisiyah. Setahun setelahnya 16 H di Julailak ia menaklukan Madain dan Bani al-Kuffa pada tahun 17 H.
Sa’ad bin Abi Waqqash adalah penguasa Irak dimasa pemerintahan Umar bin Khaththab yang berlanjut pada masa pemerintahan Utsman bi Affan. Ia adalah seorang diantara enam sahabat orang yang dicalonkan menjadi Khalifah, sejak bencana besar atas terbunuhnya Utsman.
Sa’ad bin Abi Waqqash meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan Khaulah binti Hakim.
Yang meriwayatkan hadits darinya adalah Mujahid, Alqamah bin Qais as sa’ib bin Yazid, Sanad paling shahih berpangkal darinya adalah yang diriwayatkan oleh Ali bin Husain bin Ali, dari Sa’id bin al-Musayyab, darinya (Sa’ad bin Abi Waqqash).
Ia wafat pada tahu 55 H di Aqiq.
Disalin dari Biografi Sa’ad dalam Thadzib at Thadzib karya Ibn Hajar Asqalani 3/483 dan Shifaf at Shafwah karya Ibn Jauzi 1/138
Anda sedang membaca artikel tentang
dan anda bisa menemukan artikel
ini dengan url https://hadiedjava.blogspot.com/2012/10/seri-biografi-shahabat-nabi-muhammad_3131.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel
ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link
sumbernya.
Monday, 15 October 2012
0 Seri Biografi Shahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Bag. 18 : Abu Hurairah (wafat 57 H)
Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist Nabi Shallallahu alaihi wassalam , ia meriwayatkan hadist sebanyak 5.374 hadist.
Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 H, tahun terjadinya perang Khibar, Rasulullah sendirilah yang memberi julukan “Abu Hurairah”, ketika beliau sedang melihatnya membawa seekor kucing kecil. Julukan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam itu semata karena kecintaan beliau kepadanya.
Allah Subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa Rasulullah agar Abu Hurairah dianugrahi hapalan yang kuat. Ia memang paling banyak hapalannya diantara para sahabat lainnya.
Pada masa Umar bin Khaththab menjadi Khalifah, Abu Hurairah menjadi pegawai di Bahrain, karena banyak meriwayatkan hadist Umar bin Khaththab pernah menetangnya dan ketika Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wassalam :” Barangsiapa berdusta mengatasnamakanku dengan sengaja, hendaklah ia menyediakan pantatnya untuk dijilat api neraka”. Kalau begitu kata Umar, engkau boleh pergi dan menceritakan hadist.
Syu’bah bin al-Hajjaj memperhatikan bahwa Abu Hurairah meriwayatkan dari Ka’ab al-Akhbar dan meriwayatkan pula dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, tetapi ia tidak membedakan antara dua riwayatnya tersebut. Syu’bah pun menuduhnya melakukan tadlis, tetapi Bisyr bin Sa’id menolak ucapan Syu’bah tentang Abu Hurairah. Dan dengan tegas berkata: Bertakwalah kepada allah dan berhati hati terhadap hadist. Demi Allah, aku telah melihat kita sering duduk di majelis Abu Hurairah. Ia menceritakan hadist Rasulullah dan menceritakan pula kepada kita riwayat dari Ka’ab al-Akhbar. Kemudian dia berdiri, lalu aku mendengan dari sebagian orang yang ada bersama kita mempertukarkan hadist Rasulullah dengan riwayat dari Ka’ab. Dan yang dari Ka’ab menjadi dari Rasulullah.”. Jadi tadlis itu tidak bersumber dari Abu Hurairah sendiri, melainkan dari orang yang meriwayatkan darinya.
Cukupkanlah kiranya kita mendengar kan dari Imam Syafi’I :” Abu Hurairah adalah orang yang paling hapal diantara periwayat hadist dimasanya”.
Marwan bin al-Hakam pernah mengundang Abu Hurairah untuk menulis riwayat darinya, lalu ia bertanya tentang apa yang ditulisnya, lalu Abu Hurairah menjawab :” Tidak lebih dan tidak kurang dan susunannya urut”.
Abu Hurairah meriwayatkan hadist dari /abu Bakar, Umar, Utsman, Ubai bin Ka’ab, Utsman bin Za’id, Aisyah dan sahabat lainnya. Sedangkan jumlah orang yang meriwayatkan darinya melebihi 800 orang, terdiri dari para sahabat dan tabi’in. diantara lain dari sahabat yang diriwayatkan adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, dan Anas bin Malik, sedangkan dari kalangan tabi’in antara lain Sa’id bin al-Musayyab, Ibnu Sirin, Ikrimah, Atha’, Mujahid dan Asy-Sya’bi.
Sanad paling shahih yang berpangkal daripadanya adalah Ibnu Shihab az-Zuhr, dari Sa’id bin al-Musayyab, darinya (Abu Hurairah).
Adapun yang paling Dlaif adalah as-Sari bin Sulaiman, dari Dawud bin Yazid al-Audi dari bapaknya (Yazid al-Audi) dari Abu Hurairah.
Ia wafat pada tahun 57 H di Aqiq.
Disalin dari Biografi Abu Hurairah dalam Al-Ishabah Ibn Hajar Asqalani No. 1179, Tahdzib al ‘asma: An-Nawawi 2/270
Anda sedang membaca artikel tentang
dan anda bisa menemukan artikel
ini dengan url https://hadiedjava.blogspot.com/2012/10/seri-biografi-shahabat-nabi-muhammad_3199.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel
ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link
sumbernya.
0 Seri Biografi Shahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Bag.17 : Ibnu Zubair (Abdullah bin Zubair) 94 H
Ibnu Zubair (Abdullah bin Zubair) 94 H
Seorang pemimpin masa Khalifah Ali bin Abi Talib dan awal khilafah Bani Umayyah. Dia adalah bayi pertama yang lahir dikalangan Muhajirin di Madinah. Ayahnya bernama Zubair Awwam dan ibunya, Asma binti Abu Bakar as-Siddiq. Ia sepupu dan juga kemenakan Nabi Muhammad dari istrinya, Aisyah binti Abu Bakar. Ia termasuk salah seorang dari “Empat ‘Ibadillah” (empat orang yang bernama Abdullah) dari 30 orang lebih sahabat Nabi yang dikenal menghafal seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, Tiga orang ‘Ibadillah lainnya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar bin Khatab, dan Abdullah bin Amr bin As.
Ibnu Zubair telah mengenal perang sejak berusia 12 tahun, yaitu ketika bersama ayahnya turut dalam Perang Yarmuk, dan empat tahun kemudian kembali menyertai ayahnya yang menjadi anggota pasukan Amr bin As di Mesir. Ibnu Zubair juga mengambil bagian dalam ekspedisi Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh melawan orang-orang Byzantium di Afrika. Semua peristiwa tersebut mengundang kekaguman penduduk Madinah kepadanya.
Di masa Khalifah Usman bin Affan, ia duduk sebagai anggota panitia yang bertugas menyusun Al-Qur’an. Di masa KhalifahAli bin Abi Talib, ia bersama Aisyah mengatur langkah untuk menantang Khalifah tersebut untuk menuntut penyelesaian kasus pembunuhan Khalifah Usman. Gerakan ini didukung oleh beberapa tokoh, seperti Ja’la bin Umayyah dari Yaman, Abdullah bin Amr Basra, Sa’ad bin As, dan Wahid bin Uqbah (pemuka kalangan Umayyah di Hedzjaz) dan beberapa sahabat senior (Talhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam), dan ayahnya. Perselisihan antara kelompoknya dan kelompok Ali yang sedang berkuasa diselesaikan dalam Perang Unta (Waqiah al-Jamal). Dalam perang inilah ia menyaksikan ayahnya gugur. Disebut Perang Unta karena Aisyah mengendarai unta saat memimpin pasukan itu.
Ibnu Zubair kembali melawan Dinasti Bani Umayyah. Meskipun di masa Mu’awiyah bin Abi Sufyan bentuk perlawanannya belum bersifat terbuka, ia tampil menantang khilafah (pemerintahan) Bani Umayyah secara terang-terangan. Ia memprotes Yazid, putra Mu’awiyah, yang naik menjadi khalifah atas penunjukan ayahnya setelah ayahnya wafat. Yazid memerintahkan walinya di Madinah untuk memaksa Ibnu Zubair bersama Husein bin Ali (cucu Nabi) dan Abdullah bin Umar agar menyatakan kesetiaan kepadanya. Ibnu Zubair dan Husein tetap membangkang. Demi keamanan, keduanya pindah ke Mekah. Ia tetap sebagai penantang khalifah sekalipun Husein, tak lama sesudah itu, tewas dengan menyedihkan dalam pertempuran tak seimbang di Karbala.
Pernyataan secara terbuka, bahwa kekuasaan Yazid tidak sah membawa pengaruh luas dikalangan ansar di Madinah yang akhirnya melahirkan pemberontakan. Setelah menunggu kesempatan yang baik, Yazid mengerahkan tentara Suriah di bawah pimpinan Muslim bin Uqbah dan memadamkan pemberontakan orang-orang Madinah tersebut dalam Perang Harran. Kematian Muslim bin Uqbah tak menghalangi tentara tersebut untuk bergerak menuju Mekah dengan sasaran mematahkan perlawanan Ibnu Zubair. Tentara tersebut mengepung dan menghujani kota Mekah dengan batu dan panah api yang menyebabkan Ka’bah terbakar. Berita meninggalnya Khalifah Yazid menyebabkan komandan pasukan, Husain bin Numair, mencoba membujuk Ibnu Zubair agar bersedia bergabung dengan mereka untuk kembali ke Suriah. Ibnu Zubair menolak bujukan tersebut dengan mengatakan bahwa ia akan tetap di Mekah. Selanjutnya, ia memproklamasikan dirinya sebagai amirulmukminin. Sekalipun proklamasi itu tidak lebih dari sekedar nama, namun lawan-lawan dinasti Bani Umayyah di Suriah, Mesir, Arab Selatan, dan Kufah sempat menghargainya sebagai khalifah.
Setelah Mu’awiyah putra dan pengganti Yazid meninggal dunia, Ibnu Zubair muncul sebagai kandidat khalifah atas dukungan Bani Qais. Selain itu ada kandidat lainnya yaitu, Marwan bin Haqam (dukungan Bani Qalb) dan dua kabilah Arab berdomisili di Suriah, juga saling bersaing mengajukan calon masing-masing. Akan tetapi, Ibnu Zubair terpojok tatkala peta kekuatan politik mengalami perubahan, akibat pemberontakan di Kufa dan pembelontan di antara pengikutnya, setelah Yazid wafat. Pengepungan membawa kematiannya terjadi ketika
Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi ditugaskan oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan, putra Marwan bin Hakam, untuk menyelesaikan perlawanan “Sang Penantang Enam Khalifah” – dari Ali, Mu’awiyah, Yazid, Mu’awiyah, Marwan bin Hakam, sampai Abdul Malik.
Tidak kurang dari tujuh bulan diperlukan untuk menghujani kota suci Mekah dan Ka’bah dengan bombardir pasukan al-Hajjaj untuk melumpuhkan perlawanan Ibnu Zubair. Ia masih bertahan tatkala putra-putranya menyerahkan diri kepada al-Hajjaj. Keperkasaannya bangkit kembali setelah berjumpa sebentar dengan ibunya yang sudah buta, yang mendorongnya dengan memberikan semangat juang. Padahal sebelumnya, ia sempat menyatakan kepada ibunya rasa khawatir, bahwa mayatnya akan diperlakukan secara sadis oleh para pembunuhnya kelak. Ibunya mengatakan bahwa kambing yang sudah disembelih tak sedikit pun akan merasakan sayatan-sayatan pada dagingnya. Jawaban ini mendorongnya keluar dari rumah tempat ia bertahan , maju ke tengah-tengah lawannya yang kemudian menyergap dan menghabisinya. Mayatnya ditempatkan pada tiang gantung yang sama di mana saudaranya, Amr, pernah mengalami hal serupa. Atas perintah Abdul Malik, mayatnya kemudian diserahkan kepada ibunya. Tak lama berselang, setelah menguburkan mayat putranya itu, ia pun wafat pada tahun 94 H.
Anda sedang membaca artikel tentang
dan anda bisa menemukan artikel
ini dengan url https://hadiedjava.blogspot.com/2012/10/seri-biografi-shahabat-nabi-muhammad_1469.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel
ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link
sumbernya.
0 Seri Biografi Shahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Bag.16 : Abdullah bin Abbas (wafat 68 H)
Abdullah bin Abbas adalah sahabat kelima yang banyak meriwayatkan hadist sesudah Sayyidah Aisyah, ia meriwayatkan 1.660 hadits. Dia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah dan ibunya adalah Ummul Fadl Lababah binti Harits saudari ummul mukminin Maimunah.
Sahabat yang mempunyai kedudukan yang sangat terpandang ini dijuluki dengan Informan Umat Islam. Beliaulah asal silsilah khalifah Daulat Abbasiah. Dia dilahirkan di Mekah dan besar di saat munculnya Islam, di mana beliau terus mendampingi Rasulullah sehingga beliau mempunyai banyak riwayat hadis sahih dari Rasulullah . Beliau ikut di barisan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal dan perang Shiffin. Beliau ini adalah pakar fikih, genetis Arab, peperangan dan sejarah. Di akhir hidupnya dia mengalami kebutaan, sehingga dia tinggal di Taif sampai akhir hayatnya.
Abdullah lahir tiga tahun sebelum hijrah dan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam mendoakannya “Ya Allah berilah ia pengertian dalam bidang agama dan berilah ia pengetahuan takwil (tafsir)”.Allah mengabulkan doa Nabi-nya dan Ibnu Abbas belakangan terkenal dengan penguasaan ilmunya yang luas dan pengetahuan fikihnya yang mendalam , menjadikannya orang yang dicari untuk di mintai fatwa penting sesudah Abdullah bin Mas’ud, selama kurang lebih tiga puluh tahun. tentang Ibnu Abbas, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah berkata :”Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih mengerti dari pada Ibnu Abbas tentang ilmu hadits Nabi Shallallahu alaihi Wassalam serta keputusan2 yang dibuat Abubakar ,Umar , dan Utsman“.
Begitu pula tentang ilmu fikih ,tafsir ,bahasa arab , sya’ir , ilmu hitung dan fara’id. Orang suatu hari menyaksikan ia duduk membicarakan ilmu fiqih, satu hari untuk tafsir, satu hari lain untuk masalah peperangan, satu hari untuk syair dan memperbincangkan bahasa Arab. Sama sekali aku tidak pernah melihat ada orang alim duduk mendengarkan pembicaraan beliau begitu khusu’ nya kecuali kepada beliau. Dan setiap pertanyaan orang kepada beliau, pasti ada jawabannya”.
Menurut An-Nasa’I, sanad hadits Ibnu Abbas paling Shahih adalah yang diriwayatkan oleh az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utba, dari Ibnu abbas. Sedangkan yang paling Dlaif adalah yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Marwan as-Suddi Ash-Shaghir dan Al-Kalabi, dari Abi Shalih. Rangkaian ini disebut silsilah Al-Kadzib (silsilah bohong).
Ibnu Abbas mengikuti Perang Hunain, Thaif, Penaklukan Makkah dan haji wada’. Ia menyaksikan penaklukan Afrika bersama Ibnu Abu as-Sarah. Perang Jamal dan Perang Shiffin bersama Ali bin Abi Thalib.
Ia wafat di Thaif pada tahun 68 H. Ibnu al-Hanafiyah ikut menshalatkanya.
Disalin dari : Biografi Ibnu Abbas dalam Al-Ishabah no.4772
Anda sedang membaca artikel tentang
dan anda bisa menemukan artikel
ini dengan url https://hadiedjava.blogspot.com/2012/10/seri-biografi-shahabat-nabi-muhammad_7871.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel
ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link
sumbernya.
0 Seri Biografi Shahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Bag. 15 : Abdullah Bin 'Umar RA (Wafat 72 H)
Periwayatan paling banyak berikutnya sesudah Abu Hurairah adalah Abdullah bin Umar. Ia meriwayatkan 2.630 hadits.
Abdullah adalah putra khalifah ke dua Umar bin al-Khaththab saudarah kandung Sayiyidah Hafshah Ummul Mukminin. Ia salahseorang diantara orang-orang yang bernama Abdullah (Al-Abadillah al-Arba’ah) yang terkenal sebagai pemberi fatwa. Tiga orang lain ialah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr bin al-Ash dan Abdullah bin az-Zubair.
Ibnu Umar dilahirkan tidak lama setelah Nabi diutus Umurnya 10 tahun ketika ikut masuk bersama ayahnya. Kemudian mendahului ayahnya ia hijrah ke Madinah. Pada saat perang Uhud ia masih terlalu kecil untuk ikut perang. Dan tidak mengizinkannya. Tetapi setelah selesai perang Uhud ia banyak mengikuti peperangan, seperti perang Qadisiyah, Yarmuk, Penaklukan Afrika, Mesir dan Persia, serta penyerbuan basrah dan Madain.
Az-Zuhri tidak pernah meninggalkan pendapat Ibnu Umar untuk beralih kepada pendapat orang lain. Imam Malik
dan az-Zuhri berkata:” Sungguh, tak ada satupun dari urusan Rasulullah dan para sahabatnya yang tersembunyi bagi Ibnu Umar”. Ia meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Sayyidah Aisyah, saudari kandungnya Hafshah dan Abdullah bin Mas’ud. Yang meriwayatkan dari Ibnu Umar banyak sekali, diantaranya Sa’id bin al-Musayyab, al Hasan al Basri, Ibnu Syihab az-Zuhri, Ibnu Sirin, Nafi’, Mujahid, Thawus dan Ikrimah.
Ia wafat pada tahun 73 H. ada yang mengatakan bahwa Al-Hajjaj menyusupkan seorang kerumahnya yang lalu membunuhnya. Dikatakan mula mula diracun kemudian di tombak dan di rejam. Pendapat lain mengatakan bahwa ibnu Umar meninggal secara wajar.
Sanad paling shahih yang bersumber dari ibnu Umar adalah yang disebut Silsilah adz- Dzahab (silsilah emas), yaitu Malik, dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar. Sedang yang paling Dlaif : Muhammad bin Abdullah bin al-Qasim dari bapaknya, dari kakeknya, dari ibnu Umar.
Disalin dari Biografi Ibnu Umar dalam Al-Ishabah no.4825 dan Tahdzib al-Asma’ 1/278, Thabaqat Ibn Sa’ad 4/105
Anda sedang membaca artikel tentang
dan anda bisa menemukan artikel
ini dengan url https://hadiedjava.blogspot.com/2012/10/seri-biografi-shahabat-nabi-muhammad_15.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel
ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link
sumbernya.
0 Seri Biografi Shahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Bag. 14 : Amru Bin 'Ash RA
Amru bin Ash lahir di Kota Mekah, tepatnya sekitar 50 tahun sebelum hijrah. Dijuluki sebagai Fatihu Mishr, karena di bawah pimpinan beliaulah pasukan yang diutus oleh Khalifah Umar bin Khatab r.a. berhasil menaklukkan Mesir yang diduduki oleh Imperium Romawi saat itu. Amru bin Ash lebih tua sekitar 5 tahun dari pada Umar bin Khattab r.a. Amru pernah berkata “Saya betul-betul ingat di saat malam Umar dilahirkan.”
Sosok Amru bin Ash adalah salah seorang pemuka Quraisy yang terpandang. Baik secara kecerdasan dan ketangkasan, maupun kelihaian berdiplomasi. Semenjak sebelum memeluk Islam, sudah banyak pertempuran yang beliau pimpin dan ikuti. Apalagi sejak masa mudanya Amru sudah menjadi sang pemberani dan gagah perkasa yang memenangkan banyak perperangan. Kecerdasan beliau dalam mengatur strategi perang, telah membuat Rasulullah Saw. mengangkatnya menjadi pimpinan perang Dzâtu Assalâsil. Yang di dalam barisan itu ada Abu Bakar dan Umar r.a., padahal peristiwa tersebut baru terjadi setelah Amru tiga bulan memeluk Islam. Di sinilah hikmah dan uniknya madrasah tarbiyah rasulullah Saw.. Senioritas tidak mengalahkan profesionalitas. Dulunya memeluk Islam tidak membuat para sahabat lain untuk tidak merendahkan hati dan membulatkan tekad untuk mengikuti sang pemimpin terpilih. Inilah salah satu kunci, mengapa generasi terbaik di kurun pertama Islam tampil sebagai agent of change. Mereka bisa menembus ruang yang tidak terfilter oleh logika kemanusiaan dewasa ini. Kuncinya tidak lain adalah tawâdhu’, tadhiyyah dan thâ’ah.
Mendulang Permata dari Penakluk Negeri Musa
Amru bin Ash adalah saudara kandung Hisyam bin al-Ash. Yang keduanya dipuji oleh Rasulullah Saw. dalam hadits beliau “???? ????? ??????”. Beliau adalah salah seorang yang terbaik dari ribuan sahabat yang terlahir dari rahim peradaban di zamannya. Keunggulan yang beliau miliki telah mengabadikannya di lembaran sejarah dengan tinta emas. Sahabatku sekalian, semoga kita bisa menapaki jalan yang telah digariskan oleh rasulullah Saw. dan para sahabat beliau. Mengkaji Amru bin Ash, berarti ada yang sedang kita cari dari sosok beliau. Benar memang, meskipun ungkapan itu dha’if, tetapi maknanya terkuatkan oleh banyak riwayat “Sahabatku bagaikan gemintang, manapun dari mereka yang kalian teladani niscaya akan mengantarkan ke haribaan petunjuk.” Setidaknya ada beberapa jendela petunjuk yang lurus akan kita dapatkan dari syakshiyyah Amru bin Ash.
Pertama: Memiliki azzam yang membaja untuk menuju perubahan. Tekad bulat ini dan semangat ingin meninggalkan kejahiliyahan inilah yang membuat beliau berangkat mencari Rasul Saw. hingga bertemu di Madinah. Di saat bertemu Rasulullah Saw.. Semburat senyuman manis berkilau dari bibir Asyraful Khalqi, semakin menyinari qalbu beliau. Lalu Amru berkata “Wahai rasulullah, bentangkan tangan kanan engkau, maka aku akan membai’atmu“. Maka Rasulullah Saw. membentangkan tangan kanan beliau, lalu Amru memegangnya erat-erat. Rasulullah Saw. bertanya “Ada apa dengamu wahai Amru?“. Wahai Rasulullah, aku sedang megimpikan sesuatu, dan itu telah menjadi syarat mati bagiku. “Engkau memilih harga mati dengan tawaran apa?” Tanya Rasulullah sembari mengeratkan pegangan tangan yang semakin akrab detik itu. Amru menjawab, “Agar Allah mengampuni segala dosaku.” Rasulullah Saw. berkata “Tidakkah engkau tahu ?wahai Amru? bahwasanya Islam menghapus segala ?dosa? yang telah berlalu.” Kisah ini beliau riwayatkan di akhir hayat beliau kepada Abdullah, putra tercinta. Sehingga kisah manis ini menderaikan air mata sang penakluk ketika berpisah dengan dunia yang fana ini.
Kedua: Kecintaan yang tinggi kepada Murabbi, yaitu Rasulullah Saw.. Walau bagaimanapun keunggulan dan kehebatan para sahabat, tidak lepas dari sentuhan tarbiyah dari manusia termulia yang langsung di ta’dib oleh Allah Swt.. Yaitu Muhammad Saw. pembina dan pembimbing umat untuk pertama kali. Suatu hari, Amru menemui Rasulullah Saw. dan bertanya, “Wahai rasulullah, siapakah orang yang paling Engkau cintai?” Rasul menjawab, “Aisyah.” Dari kaum lelaki, tanya Amru kedua kalinya. “Ayahnya.“, jawab Nabi. Selanjutnya? “Umar, Utsman….” Setelah beberapa orang nama sahabat disebutkan, tidak ada satupun nama beliau disebutkan oleh Rasulullah Saw.. Kemudian Amru berkata, “Demi Allah, sejak sekarang saya tidak akan bertanya lagi tentang hal ini kepada Rasulullah.“
Kita tentu heran. Mengapa pertanyaan ini terlintas di benak seorang Amru bin Ash. Namun, semua itu terpatri karena kecintaan yang mendalam kepada sang guru dan sentuhan batin seorang rasul, begitu menggelora dalam lubuk hati beliau. Seakan melahirkan sebuah anggapan, bahwa beliaulah yang paling dincintai, karena memang Amru begitu mencintai Nabi Saw.. Hal ini terbukti dalam banyak momentum semasa hidup bersama Rasulullah Saw. dalam meluaskan ekspansi dakwah Islam ketika itu. Di zaman Rasulullah Saw. Amru dipercayai menjadi gubernur di Oman, sampai datangnya hari kepulangan sang guru tercinta ke haribaan yang Maha Rahman dan Rahim.
Ketiga: Memaknai ilmu, amal, dakwah dan jihad sebagai jalan hidup. Keunikan para sahabat adalah kemampuan mereka menggabungkan antara kedalaman ilmu dengan amal. Kemudian merepresentasikan amal ke dalam ruang gerak yang lebih luas, yaitunya gerbong dan medan dakwah. Selanjutnya dengan menyibukkan diri dengan berdakwah, secara tidak langsung telah membentuk kepribadian mereka menjadi mujahidin yang tangguh. Alhasil, Islam yang begitu indah terlihat oleh kita di negeri Kinanah ini. Itu merupakan salah satu bentuk mutiara berkilau dari semangat menuntut ilmu di madrasah Rasulullah Saw. dahulu, yang diteruskan dengan praktek. Dan dakwah yang diyakini para sahabat tidaklah bisa sukses, kecuali dengan dorongan semangat militansi dan jihad yang sesungguhnya.
Berjihad melawan malas, maksiat, individualisme, keangkuhan, kebusukan hati, dinginnya angin malam di medan perang serta tajam dan banyaknya jumlah anak panah musuh, telah berhasil disulap oleh sang komandan -Amru- Menjadi peluang yang mesti dilewati. Tidak ayal, kalau mulai dari deretan Hijaz, Syam, sampai ke wilayah Mesir, Amru bin Ash adalah salah seorang yang punya andil besar dalam memperluasan kawasan dakwah Islam.
Keempat: Pahlawan yang melahirkan sang pahlawan. Kita kenal dalam sirah. Amru adalah salah seorang sahabat yang jejak usia dini sudah menikah. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana kedewasaan orang di zaman dulu. Bukti kepahlawanan ini, pertama, sang putra bernama Abdullah bin Amru, adalah salah seorang sahabat yang empat bernama Abdullah. Ini dikenal oleh ahli hadit dengan al-’ubadalah. Meskipun sang putra lebih duluan mengecap manisnya Islam dari ayah. Namun, ini tidaklah bisa dijadikan alasan untuk berkurangnya jiwa kepahlawanan beliau. Terbukti dalam kutub al rijal disebutkan ada sekitar 40 hadits yang bersumber dari beliau, terdiri dari tiga hadits muttfaqun ‘alaihi, satu hadits termaktub di Shahih Bukhari, dua dalam Shahih Muslim, selebihnya dalam kitab yang lainnya. Dan Amru bin Ash adalah guru dari putra beliau langsung, yaitu Abdullah.
Tidak hanya Abdullah yang bermunculan dari tempaan tarbiyahnya, tapi masih terdapat banyak sahabat lainnya, yaitu Abu Qais, Qubaishah bin Dzuaib, Abu utsman Annahdi, Ali bin Rabah, Qais bin Abi Hazim, Urwah bin Zubair dll. Mereka adalah orang-orang yang besar dari sentuhan ilmu dan akhlak Amru bin Ash r.a.. Semoga kita termasuk para hamba-Nya yang bisa menapaki jalan yang telah mereka lalui. Karena hidup hanya sekali. Sungguh merugi kita, apabila ilmu yang dipelajari tidak membuahkan amal. Amal yang kita nikmati tidak menelurkan semangat untuk berdakwah. Dan dakwah yang kita ikuti tidak dibumbui oleh jihad yang menyentuh semua segmen kehidupan. Selamat jalan pahlawan. Engkau telah mengajarkan kami bagaimana menyeimbangkan antara ilmu dan amal, kesalehan pribadi, dana dan kepedulian sosial. Berdakwah dan jihad. Sungguh hari kepergianmu begitu pilu di hati ini. Karena kami begitu merindukan kehadiran sang gagah pemberani sepertimu. Karena di usia engkau yang mendekati 90-an, tidak membuat semangatmu berubah lesuh dan lemah. Deraian tangis yang berlingan kedua matamu di saat sekejap menjelang ajal tiba. Telah membuktikan indah dan mudahnya gerbang kematian engkau lalui. Sebab, pintu itulah yang mempertemukanmu bersama kekasih dan para sahabat. Ya Allah, pilihlah kami sebagai penerus perjuangan mereka. Amin ya Rab. Wallahu a’lam. Disarikan dari berbagai maraji’. (Siyar 3/54)
Sumber : http://lp2i-kuburaya.com/amru-bin-ash/
Anda sedang membaca artikel tentang
dan anda bisa menemukan artikel
ini dengan url https://hadiedjava.blogspot.com/2012/10/seri-biografi-shahabat-nabi-muhammad.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel
ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link
sumbernya.
