Senin, 22 Oktober 2012

0 Sepuluh perkara Yang mematikan hati

Syaqiq Al-Balkhi, sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi Al-Bantani, menuturkan bahwa Ibrahim bin Adham pernah berjalan-jalan di pasar-pasar di kota Bashrah (Irak). Lalu orang-orang datang kepadanya dan berkumpul disekitarnya. Mereka bertanya kepadanya tentang firman Allah Ta’ala QS. Ghafir : 60. “Kami,”kata mereka,”sejak lama berdo’a kepada Allah Ta’ala, namun Dia tidak mengabulkan do’a kami.” Mendengar hal itu Ibrahim bin Adham berkata,”Wahai penduduk Bashrah, itu karena qalbu-qalbu kalian sesungguhnya telah mati karena sepuluh perkara. Jadi, bagaimana mungkin Allah mengabulkan do’a kalian?!” Kesepuluh perkara itu, kata Ibrahim bin Adham, adalah : 1. Sesungguhnya kalian mengaku mengenal Allah Ta’ala (yakni memahami bahwa Dia Pencipta kalian dan Pemberi rezeki kepada kalian), namun kalian tidak menunaikan hak-hak-Nya (dengan senantiasa beribadah/mengabdi kepada Dia sebagaimana yang Dia perintahkan kepada kalian). 2. Sesungguhnya kalian membaca Kitabullah, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. 3. Sesungguhnya kalian mengklaim memusuhi setan, namun kalian justru berteman dengan dia (sering mengikuti berbagai ajakan / perintahnya). 4. Sesungguhnya kalian mengklaim mencintai Baginda Rasulullah SAW, tetapi kalian meninggalkan jejak (amal)-nya dan menanggalkan sunnah-sunnah –nya tanpa berusaha mengikutinya. 5. Sesungguhnya kalian mengklaim mencintai surga, namun kalian tidak beramal demi meraih surga itu (tidak melakukan amalan-amalan yang dapat memasukan kalian ke dalam surga tersebut). 6. Sesungguhnya kalian mengklaim takut terhadap adzab neraka, tapi kalian justru tidak pernah berhenti melakukan banyak dosa (yang bisa menyebabkan kalian jatuh kedalam adzab neraka). 7. Sesungguhnya kalian mengklaim (meyakini) bahwa kematian itu hak (benar-benar akan terjadi) namun kalian tidak berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian tersebut (tidak berusaha memperbanyak amal sholih untuk bekal menghadapi kematian). 8. Sesungguhnya kalian sering sibuk mengurusi aib-aib orang lain (sering melakukan ghibah), tetapi kalian lalai memperhatikan aib-aib diri sendiri (tidak berusaha memperbaiki diri). 9. Sesungguhnya kalian memakan rezeki Allah Ta’ala tetapi kalian tidak mau bersyukur kepada-Nya (syukur seorang hamba kepada Allah Ta’ala adalah dengan cara biasa memuji Dia dengan sering menyebut kebaikanNya, kemudian selalu berusaha tunduk dan taat kepadaNya). 10. Sesungguhnya kalian sering menguburkan orang-orang yang meninggal di antara kalian, namun kalian tidak mengambil ibrah dan pelajaran dari kematian. Kalian tidak berusaha menyadari padahaljika kalian menyadari, kalian akan merindukan apa yang di raih oleh pelaku kebaikan dan membenci apa yang di dapat oleh pelaku keburukan. (An-Nawawi, Nasha’ih al-‘ibad, hal. 75) Itulah sepuluh perkara yang membuat hati seorang muslim menjadi mati sehingga doa-doanya tidak di kabulkan oleh Allah Ta’ala. Dari penjelasan Ibrahim bin Adham tentang sepuluh perkara yang mematikan hati di atas, tentu kita bisa memahami kebalikannya, yaitu sepuluh perkara yang bisa membuat kalbu-kalbu kita senantiasa tetap hidup. 1. Mengenal Allah sebagai Pencipta dan Pemberi Rezeki seraya beribadah dengan selalu tunduk dan patuh pada segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangannya. 2. Membaca, mengkaji sekaligus mengamalkan isi Al-Qur’an. 3. Menjadikan iblis atau setan sebagai musuh dengan benar-benar tidak mengikuti berbagai ajakan dan perintahnya. 4. Mencintai Baginda Rasulullah SAW seraya berusaha untuk selalu mengikuti jejak langkah Beliau dan jalan kehidupan beliau. 5. Selalu merindukan surga yang dibuktikan senantiasa memperbanyak amal shalih untuk bisa masuk ke dalamnya. 6. Senantiasa takut terhadap adzab neraka yang di buktikan dengan berusaha berhenti dari berbuat dosa dan kemaksiatan yang dapat menjerumuskan diri ke dalamnya. 7. Meyakini bahwa kematian itu haq (pasti terjadi)sehungga selalu berusaha mempersiapkan bekal amal-amal sholih untuk menghadapi kematian tersebut. 8. Senantiasa sibuk memperhatikan sekaligus memperbaiki aib-aib diri dan tidak sibuk memperhatikan aib-aib orang lain. 9. Memakan rezeki Allah Ta’ala yang halal dan baik seraya mensyukurinya dengan banyak memujinya sekaligus tunduk dan patuh kepada-Nya. 10. Berusaha mengambil banyak ‘ibrah dan pelajaran dari kematian orang-orang yang lebih dahulu meninggalkan kita. Wa maa taufiiqi illa bilLah.

Related Post:

0 Komentar:

Poskan Komentar